Ucok Homicide Bicara Tentang Logika Perlawanan Anak Punk

Hiphopers, masih ingat dengan kasus penggundulan ratusan anak punk di Aceh? Kalau sudah lupa, biar aku ceritakan dengan singkat. Bulan Desember (2011) lalu, ratusan anak punk Aceh yang sedang berkumpul di sebuah acara musik, tiba-tiba didatangi kumpulan orang berseragam yang menangkap mereka atas perintah wakil walikota Aceh. Mereka lalu dibotaki satu per satu, dan diharuskan menceburkan diri ke kolam  sambil bertelanjang dada. Bahkan, mereka juga wajib masuk ke tempat rehabilitasi. Perlakuan ini dinilai sangat tidak berprikemanusiaan. Berita ini kemudian sampai ke tingkat dunia. Sontak muncul aksi solidaritas dari teman-teman komunitas yang berdiri atas persamaan identitas dalam bermusik ini di Jakarta, Bandung, dan dunia. Kedutaan besar Indonesia di salah satu negara Eropa pun sempat menjadi korban coretan oleh komunitas punk setempat.

Sabtu (14/1/2012) lalu, Jakartabeat.net (media online yang khusus membahas issue musik dan politik) merayakan hari ulang tahunnya yang ke-3 dengan menggelar sebuah diskusi publik yang berjudul “Punk, Logika Perlawanan, dan Kekuasaan”. Diskusi yang diadakan di Galeri Ruang Rupa (@RuangRupa), Jl. Tebet Timur Dalam Raya No. 6, ini mengundang Ucok Homicide (musisi Hip Hop), Hikmawan Saefullah (Dosen HI Unpad), Philip Vermonte (Dosen dan owner Jakartabeat.net), dan Fathun Karib sebagai pembicara, serta Taufiq Rahman sebagai moderator.

Dalam kesempatan itu, Herry Sutresna a.k.a Ucok Homicide menjelaskan maksud utama dari tulisannya yang berjudul Making Punk A Thread Again. Tulisan tersebut diposting di Jakartabeat.net pada 4 Januari 2012. Di sana, Ucok mempertanyakan sikap anak punk yang terlihat pasrah ketika harga diri mereka diinjak waktu diperlakukan secara tidak manusiawi. Ia juga mengkritik aksi-aksi solidaritas yang terjadi setelahnya, yaitu demonstrasi di depan gedung-gedung pemerintahan dan kantor kepolisian. Menurutnya, aksi tersebut sama sekali tidak mencerminkan perlawanan punk. Kawan-kawan punk yang melakukan aksi ala mahasiswa malah terlihat menyedihkan karena meminta belas kasihan polisi agar memperlakukan mereka dengan normal dan manusiawi.

Salah satu penggerak Hip Hop Bandung ini terdorong untuk menulis tentang kasus Punk Aceh karena musik Punk pernah melekat dan berjasa untuknya ketika masih SMA. Baginya, punk hadir untuk menginspirasi dalam berkarya sebelum ada scene Hip Hop. Jelas musik punk lebih dulu hadir dibanding Hip Hop. Punk yang mengajarkan tentang pergerakan independent dan perlawanan atas sebuah keadaan. Alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB serta Sastra Inggris Unpad ini juga menyayangkan perhatian publik yang terlalu membesar-besarkan masalah Punk Aceh. Menurutnya, kawan-kawan punk Aceh pasti memiliki alasan lain yang lebih positif dan personal sehingga mereka rela diperlakukan seperti seorang pelaku kejahatan.

Ketika ditanya mengenai pergerakan Hip Hop yang menjadi musik penentang politik, ia mengatakan bahwa Hip Hop di Indonesia tinggal mempraktikkan Hip Hop luar yang bisa mengkritik politik. Menurutnya, kawan-kawan di daerah-daerah sudah banyak yang menjadikan Hip Hop sebagai alat perjuangan apapun bentuknya, seperti perjuangan komunitas, politik, budaya, dan lain-lain. Namun, karena Hip Hop termasuk baru, jadi dampaknya tidak akan sebesar Punk atau Rock & Roll.

Salah satu pendiri Trigger Mortis ini juga mengatakan bahwa kawan-kawan Hip Hop juga punya peluang untuk didiskriminasikan oleh masyarakat dan diperlakukan seperti kawan-kawan punk kemarin. Dengan catatan, kawan-kawan tinggal di Aceh dan berpenampilan seperti rapper luar yang seluruh tubuhnya penuh dengan tatto. Ia juga menambahkan bahwa sebenarnya hal apapun yang bertolak belakang dengan moral mainstream punya peluang untuk ke sana (didiskriminasikan).

Ditanya mengenai kesamaan Hip Hop dan punk, dengan dialek Sunda yang kental, Ucok menjawab kesamaan musik punk dengan Hip Hop yaitu sama-sama berbicara berdasarkan penindasan. Untuk kawan-kawan yang masih berjuang mengejar mayor label, tidak ada kata lain selain terus berjuang karena tidak ada bukti tanpa sebuah karya atau album.

Acara yang dimulai sejak pukul 15.00-17.30 WIB itu pun diakhiri dengan sesi foto bersama. Terakhir, Ucok menceritakan rencananya yang sedang serius menggarap solo album sambil menunggu Dede “Trigger Mortis” kembali ke Bandung. “Dede banyak kesibukan dengan kerjaannya, jadi Trigger Mortis ke-hold. Sambil menunggu Dede balik ke Bandung, saya bikin-bikin solo album dan sibuk ngurus label yang terakhir baru garap Eye Feel Six. Albumnya keluar tergantung duit karena kita kan swadaya, tapi target sih tahun ini”, ujarnya ramah.

Comments

comments

ARTICLES INDONESIA RAP

Leave a Reply

*