Tugitu Unite – Solo, Jawa Tengah

Solo tak lepas dari citra budaya dan seni tradisinya yang kuat. Keberadaan street art di kota ini sesungguhnya sudah dimulai sejak lama, namun baru muncul karya yang mendapat sentuhan estetis sekitar tahun 2000-an. Karya-karya tersebut dibuat oleh T-13 dan Fil, mahasiswa seni rupa UNS yang mencoba merespon kondisi social dan politik kota Solo setelah runtuhnya Orde Baru.

Mereka membuat graffiti di halte-halte sepanjang jalan Slamet Riyadi hingga jalan Ir. Sutami. Inilah titik awal perjalanan street art  di Solo, dan setelahnya mulailah bermunculan pelaku-pelaku street art.

Gairah ini mendorong T-13 dan Fil untuk menggelar acara menggambar bersama di sepanjang jalan Kalitan. Dan acara ini yang kemudian menginspirasi acara-acara serupa seperti Summer Attack di tahun 2007, 2008, dan 2012.

 

Solo

 

Di tahun 2009, terbentuklah Tugitu Unite, kelompok kolektif yang berdiri atas dasar pemikiran ingin selalu tampil. Walaupun cuma “giTU GITU aja”.

Dan kini personil Tugitu Unite telah berjumlah 21 orang dengan latar belakang ilmu yang berbeda-beda, seperti; desain, fotografi, seni jalanan, hingga sastra. Mereka itu adalah Agus “Pakdhe”, Roy “Shero”, “Somed” Moko, Firas, TOPX, NOPX, Ferdy Bowie, Regina, Adelliarosa, Dilla Qolbi, Hii Damas, Ryan Nababan, Yohanes Prima, Dony, Sonisnipz, Eka “Celly”, Dayat, Obet, Abut, Towi “DJ Sito”, dan Faris.

Seiring dengan hadirnya Tugitu Unite, pergerakan street art yang awalnya dinilai sebagai aksi vandalism, kini mampu berdiri dan berkolaborasi dengan seni tradisi (batik), dan bahkan mampu masuk dan diusung oleh disiplin ilmu yang jauh berbeda, yaitu olahraga.

Fb: Tugitu Unite

Disadur dari Booklet ISAD Festival 2013.

Info lebih detail:
w. isadonline.net
t. @I_S_A_D
fb. Indonesian Street Art Database
e. indonesianstreetartdatabase@gmail.com

Comments

comments

ARTICLES GRAFFITI INDONESIA

Leave a Reply

*