Swimming Pools – Bedah Lagu

swimming-pool

Kalau ada satu hal yang gue sadari dari scene hip-hop lokal adalah banyaknya rapper yang merangkap producer. Entah karena cari nyaman berkarya atau karena perkara budget (gue sih dua-duanya), tapi ini tren yang gue rasa cukup menarik untuk membuka obrolan mengenai songwriting.

Gue bukan pakar hip-hop by any meaning. Enggak gede di jalanan dan bukan juga rapper yang udah tahunan berkarya, tapi gue senang menelaah lagu dan strukturnya ditambah lagi gue juga kuliah di bidang music business. Anggaplah obrolan semacam ini adalah side dish di sela-sela produksi karya, kuliah, dan cari duit buat bayar kuliah.

Anyway.

Kebetulan kemarin ada sebuah lagu yang enggak baru-baru amat menangkap perhatian gue karena satu hal: strukturnya. Lagu tersebut adalah Swimming Pools (Drank) dari Kendrick Lamar. Lagu tahun 2012 ini adalah single pertama dia yang menembus Billboard Hot 100 sampai di peringkat 17 sekaligus jadi peringkat 3 di Billboard Hip-Hop 100. Untuk sebuah lagu rap dengan lirik yang cenderung conscious bisa mendapat popularitas sebesar itu di chart mainstream pastinya lagu itu memiliki formula yang tepat, baik secara marketing maupun secara songwriting.

Question is: what make a song popular?

Konon katanya, chorus adalah bagian terpenting dari sebuah lagu untuk bisa populer. Di sanalah “hook” dari sebuah lagu, bagian yang paling identifiable dan kalau bisa makin nempel makin bagus. Biasanya rapper menggunakan feature artist penyanyi untuk membuat hook yang catchy (contoh: Kanye West – All Falls Down) atau menggunakan satu phrase yang diulang-ulang, atau ya bergantung sama instrumental/sample. Pendek kata, makin catchy makin juara. Itulah yang jadi fokus perbincangan kita kali ini.

We’ll talk about it later on. Sekarang mari kita bongkar dulu struktur lagunya:

yes, I use excel

Setelah intro singkat selama 19 detik, lagu ini dibuka oleh chorus 1 dengan formula hook dengan repetisi satu kata; “drank”; double entendre untuk istilah “minum” atau “purple lean” yang waktu itu (well, sampe sekarang) lagi populer-populernya di sana. Bagian itu gue tandai dengan background gelap karena di part itu mood-nya memang gloomy dengan sound pad dan drum minimalis. Di bagian ini yang “maju” secara aransemen maupun secara sound mixing adalah kata “drank” memberikan audiens fokus dan ekspektasi bahwa lagu ini adalah “lagu minum”.

Siapapun yang pernah ngobrol dengan musisi yang berurusan sama label pasti tahu cerita bagaimana label hanya akan menghabiskan waktu 15 sampai 30 detik untuk mendengarkan demo sebelum di-skip ke lagu berikutnya. Kita-kita yang bikin lagu mungkin akan kesel, sentimen, ngomel kenapa lagu yang udah susah-susah kita buat, mahal-mahal kita rekam enggak didengerin sampai selesai juga.

Here’s the logic: audiens yang belum kenal kita dan kebetulan mendengar lagu kita di radio tidak akan mau mendengar lebih lanjut kalau kita tidak menangkap perhtian mereka secepat mungkin. Lagu kita akan bersaing dengan banyak lagu lain di pasaran sana dan sedikit sekali audiens yang mau menghabiskan waktu lama-lama untuk lagu dari artis yang mereka tidak kenal kecuali lagunya enak banget.

Inilah alasan utama kenapa lagu pop mainstream biasanya akan menaruh hook sebelum menit pertama. Kalau enggak catchy dari awal ya enggak akan laku.

Membuka dengan chorus sebagai hook adalah satu hal yang sangat umum di pop mainstream. Kita bisa setel lagu-lagu Beatles era awal banget (Can’t Buy Me Love, She Loves You) sebagai contoh betapa purba formula ini dalam pengkomposisian lagu. But it does work well, then and now. Mood dan pesan langsung tersampaikan seketika.

But was it the message?

Pada waktu verse-nya masuk di detik ke-26, line pertama sudah menyatakan sisi negatif dari alkohol. Ekspektasi yang dibangun di chorus langsung dipatahkan di situ (kalau merhatiin lirik sih, kalau yang cuma hyping-hyping doang pasti ya tetep goyang aja). Delapan bar ini adalah bagian di mana Kendrick menunjukkan sisi conscious dia secara lirik, terbalut rapih dengan chorus pertama. It worked well as both conscious and hype song.

Kembali kepada struktur. Setelah empat bar Kendrick menceritakan kondisi personal dia terhadap alkohol, hi-hat masuk membuat mood lagu terangkat seiring liriknya memberikan narasi pesta di mana dia berada saat ini. Satu hal yang sangat menarik adalah bagaimana dua poin cerita (latar belakang alcoholism Kendrick dan pesta) bisa tersampaikan dengan ringkas hanya dalam delapan bar.

Audiens secara umum itu bosenan, lagu kalau flat sedikit pasti dibilang “apaan sih nih, basi!”. Mengantisipasi reaksi inilah yang membuat struktur Swimming Pool ini menarik.

4 bar chorus 1 —> pengulangan “drank” membangun mood, instrumentasi dark & moody
4 bar verse 1 —> introduksi latar belakang cerita, instrumentasi masih dark, tapi cerita bergerak
4 bar verse 1 —> narasi bergeser ke kondisi pesta, hi hat masuk, mood mulai naik
8 bar chorus 2 —> narasi cerita berlanjut ke kondisi “pecah”, instrumentasi dan lirik sama-sama menceritakan kondisi mabuk.

Progresi cerita (lirik) dan pergeseran mood instrumentasi (musik) terjadi sangat cepat sehingg membuat audiens tidak punya kesempatan untuk bosan. Setiap beberapa detik selalu ada hal baru yang terjadi, both lyrical and sonical.

Chorus 2 masuk di detik ke 52, bermain sebagai hook kedua (I swear I ain’t trying to make cheap bar right there), posisi aman di mana audiens yang kita inginkan untuk stay sudah akan stay sampai lagunya habis. Adanya dua buah hook ini juga cara pintar untuk membuat bagian lagu yang berulang tanpa terasa repetitif. Format kedua buah hook ini pun bagus secara narasi, karena hook pertama adalah mengenai “minum” sementara hook kedua adalah mengenai “mabuk”. Sebab-akibat, and that’s pretty smart.

Struktur berikutnya dari lagu ini sebenernya hanya repetisi sih dengan pengecualian verse 2 di mana mood lagu dimainkan setelah tiga bar alih-alih empat bar, tapi more or less tidak jauh berbeda.

Mungkin beberapa dari kalian ada yang merasa ini agak blasphemous ya, menelaah dan mencoba memandang sebuah produksi lagu hip-hop dari kacamata pop. Tapi di mata gue ketika lo memproduksi sesuatu dengan tujuan dilepas dan dijual ke massa mainstream, mau nggak mau harus ada kompromi tentang apa yang mau lo sampaikan dan apa yang mau audiens mau dengar.

Maka dari itulah kenapa lagu ini yang dijadikan bahan telaah. Gue rasa lagu tentang alcoholism yang dibuat seolah adalah lagu peneman minum alkohol ini merupakan contoh terbaik mengenai berkompromi dengan pasar sambil menjaga dignity sebagai seorang seniman.

*sumber gambar: Youtube

Comments

comments

ARTICLES

Leave a Reply


*