Ikuti Kisah Senartogok, Produser Dibalik Kesuksesan Rand Slam dan Joe Million, dari Ngamen Hingga Sekarang!

Senartogok | Source: http://www.hiphopindo.net/

Belakangan ini, nama musisi sekaligus produser, Senartogok, mulai tidak asing terdengar di telinga penikmat hip hop tanah air, terutama setelah keterlibatannya dalam produksi lagu-lagu rapper yang juga sedang naik daun seperti Rand Slam dan Joe Million.

Ternyata, produser satu ini punya banyak cerita seru loh dalam perjalanannya berkarya di dunia hip hop. Mau tau gimana ceritanya? Langsung aja yuk simak wawancaranya dengan Hiphopindo.net berikut ini!

Senartogok | Source: https://media.creativemornings.com/


Senartogok | Source: https://media.creativemornings.com/

Siapa nama asli Senartogok dan apa cerita dibalik dijadikannya nama tersebut sebagai nama panggung?

Nama asli saya Sutarjo Kusni Dharma, akan tetapi teman-teman akrab memanggil saya Tarjo. Dahulu kala, menurut mereka wajah saya mirip orang Jawa, walaupun aslinya saya campuran Batak dan Nias juga lahir di Sibolga sana. Saya sangat tertarik kisah tentang Semar dan Togog. 

Waktu itu saya berada di kampung halaman, sekitar 2013 lalu dan sedang diberdayakan pemadaman bergilir oleh PLN. Pemadaman di sana pun tak teratur, surprise… artinya warga tak bisa tahu kapan persisnya, terutama nenek saya selalu merepet kalau itu terjadi.

Sekitar November 2013, saya sedang memesan domain untuk nama blog pribadi supaya terlihat menjanjikan bagi pembaca kelak. Agar terkesan anonim dan gaul, saya coba cari pseudonim, dan terpikirlah Semartogok (disambung tulisannya).  

Sewaktu memesan, listrik tiba-tiba mati, kemudian nyala lagi, beberapa menit kemudian mati lagi, trus nyala lagi. Saya jengkel soalnya koneksi di sana tak bisa diharapkan, karena terburu-buru, saya sadar salah order, jadinya www.senartogok.org (huruf m dan n pada keyboard berdekatan, jadi kepencet).

Setelah saya pikir-pikir, meskipun norak, senartogok namanya terdengar asik juga. Ketika perjalanan pulang ke rumah, saya mulai mencari pembenaran atas kecerobohan tersebut, maka senar bolehlah saya artikan sebagai musik agar hidup saya penuh nada, dan togok dapat saya maknai sebagai cahaya karena saya berambisi menjadi nabi, dan di kampung saya, lampu teplok biasanya disebut lampu togok, dan masih digunakan keluarga saya di musim pemadaman bergilir seperti itu, jadi cucokloginya pas.

Sesampainya di Bandung sebulan berikutnya, saya baru sadar bahwa yang benar itu juga bukan togok tetapi togog. Ah, persetan! Senartogok meskipun alay, tapi menghibur juga di kuping saya. Jadilah nama pena/panggung saya begitu

Apa saja kesibukan Senartogok akhir-akhir ini, baik yang berhubungan dengan hiphop atau yang lain?

Beberapa bulan ini, saya sibuk mengelola Maratonmikrofon Records yang fokusnya adalah rilisan-rilisan fisik. Maratonmikrofon records ini sebenarnya perbincangan panjang saya dengan bang Doyz sejak Agustus 2016 lalu ketika kami mulai berkirim pesan ria di media sosial dengan harapan kami punya wadah kecil untuk menampung aspirasi kami.

Dalam tahap ini saya mempunyai banyak porsi dalam menjalankannya, tentu saja dibantu banyak kawan-kawan. Maratonmikrofon sendiri baru merilis 10 album hampir setahun ini dalam format CD maupun kaset. Yang terbaru adalah Mayapada Remix milik Anonymous Alliance, unit hip hop soleh dari Cirebon kesukaan kami. Dibantu oleh Def Bloc Union, Rimajinasi  dari Rand Slam juga dalam tahap penjualan.

5 September lalu, Maratonmikrofon bekerjasama dengan berbagai kolektif merilis CD Kompilasi ‘Propagasi’ dan proses cetak saya tangani juga. 3 rilisan ini cukup menyita waktu saya akhir-akhir ini, selain itu saya aktif juga di Perpus Jalanan Bandung, juga Zineorid yang tahun ini lebih banyak mendistribusikan koleksi zine ke banyak kawan di berbagai daerah pula, saya sehari-hari menjadi pengurus tetap di sebuah unit kajian di ITB bernama ISH Tiang Bendera dengan agenda bertumpuk juga. Dan terakhir, paling saya sibuk mengamen untuk mengumpulkan modal naik haji dan nikah.

Bisa diceritakan awal perjalanan Senartogok saat memasuki dunia hip hop, khususnya sebagai produser musik rap?

Bermula di SMA sebenarnya, dulu saya punya kelompok breakdance dengan misi besar agar masuk kepengurusan OSIS waktu itu. Saat itu saya bertemu Dimas, kakak kelas yang punya banyak mixtape yang ia rekam mandiri. Dari koleksi kaset C-90 merk Maxell, Sony, dll saya berkenalan dengan Gangstarr, Public Enemy, 3rd Bass, hingga Cypress Hill.

Grup grup itu menemani kami salto-salto sore hari sebagai musik latarnya. Pada Track Jump Around milik House of Pain saya mulai curiga dengan apa yang nantinya kita sebut proses sampling. Hari-hari berikutnya saya mendengar Renegades Of Funk-nya Rage Against The Machine dan mirip sekali dengan gitar Perfect Strangers-nya Deep Purple yang sering diputar ayah saya saat saya masih kecil dulu. Dari situlah saya berniat jadi beatmaker, mempelajari FL Studio, dan mulai membuat musik-musik breakdance kami hingga berlanjut terus sampai kuliah. Saya sering membuatkan minus-1 untuk kawan-kawan rapper yang dekat dengan saya, karena saya menyukai sampling ini.

Saya pikir disitu saya mulai berkarir, dan membuat juga lagu-lagu yang saya posting di Myspace atau Reverbnation. 2013 saya sempat ingin serius dengan seorang rapper asal medan Clavus Domini, yang kelak nantinya kita kenal sebagai Pangalo!

Tapi dia sering galau, terburu-buru murtad memasuki jurusan filsafat UGM dan saya jadi tukang remix jadinya, lumayan hasilnya sebagai bingkisan dalam CD-R untuk cetakan zine-zine saya. Setahun berikutnya saya bertemu Ucok Homicide, dulu dia masih tinggal di Cipaganti, saya sering dihadiahi koleksi lagu hip hop beratus GB dan beliau juga membagikan aneka breaks, drum loops, yang memperkaya kegemaran saya dalam sampling ini.

Saya menyalurkan keseriusan yang sempat dinodai Pangalo! paska ia pergi menuntut ilmu di Yogya itu dengan ngamen keliling memakai speaker aki sepanjang warung makan Pajajaran sampai ke Tamansari bersama anak-anak jalanan Rumah Belajar Sahaja Ciroyom.

Sejatinya saya muak pada anak-anak karena di dalam kepala mereka hanya berisi lagu-lagu Marjinal terus. Ketika mereka mendengar  saya  merapalkan lirik Naik Delman di atas minus-1 salah satu track Organized Konfusion, mereka mulai tertarik dengan hip hop.

Akhirnya mereka mulai move on dari Marjinal dan mengenal musik lebih banyak jenisnya, dan niat jahat saya berhasil juga, hingga kami pun mencoba mengamen dengan cara nge-rap itu, lumayan jadi cara baru mencari uang juga mengisi pentas-pentas undangan yang dilayangkan pada kami.

Puncaknya, saat saya bertemu dengan Joe Million. Dia sering nongkrong di UKM Papua, bersebelahan dengan ISH Tiang Bendera tempat saya bernaung, saat itu ia memutar lagu-lagu Nas. Warga kampus yang biasanya membuat saya bosan, dengan terus memutar Payung Teduh, ERK, hingga Navicula, Nas yang Joe putar tentu membuat saya penasaran, dari sanalah kami berkenalan dan sering berbincang mengenai hip hop, dan ia juga memberikan saya demo-demo lagunya, dan saya berjanji untuk memproduserinya, setidaknya 3 album  pertamanya nanti, apapun yang terjadi. Karena alasan itulah, sampai saat ini saya bertahan dan dipertemukan dengan banyak kawan luar biasa di berbagai daerah untuk menggeluti hip hop ini.

Senatogok dikenal serba bisa dalam bermusik maupun dunia hiphop, sebenarnya, bidang manakah yang paling senartogok sukai atau ingin lebih didalami lagi?

Ah tidak juga! Ini semua karena Joe Million kok, saya cuma bikin beat saja. Serba bisa dalam musik juga tidak, sebab ini perlu saya tekankan, kalau Joe Million atau Rand Slam memburuk suatu hari, atau mereka punya kekasih beatmaker baru (saya gak yakin sih akan cocok, hihihi) saya siap pindah haluan. Semua tergantung mereka (*Tertawa). Sedari dulu saya ingin sekali mendalami ilmu agama, sebab menurut saya hidup ini fana pula sementara. Saya ingin jadi ustad tua nanti, dengan begitu saya lebih didengarkan, diikuti, dan dilirik lawanjenis saya.

Apa saja kelebihan dan kekurangan dari dunia hiphop khususnya produksi yang sudah Senartogok dalami?

Kelebihan hip hop itu sepertinya tak ada habisnya. Maksud saya, dalam proses pembuatannya, saya selalu dituntut untuk mendengarkan seluruh jenis musik, untuk memperkaya bahan saya dalam produksi. Saya dipaksa belajar, membandingkan, menguliti, rilisan hip hop apapun untuk amunisi bagaimana saya menyusun komposisi, meletakkan breaks, memotong bagian lagu,
juga membangun atmosfer sebuah track.

Dalam prakteknya, setiap hari saya selalu melacak album-album dari berbagai era, genre apapun, mengunduhnya, juga berkeliling ke kediaman kawan-kawan yang punya koleksi fisik rekaman-rekaman, mulai dari CD, Vinyl, kaset, DVD film, apapun yang menghasilkan suara, saya rip, didigitalkan kembali, didaurulang, dan mengumpulkannya sebanyak mungkin.

Sampling juga tidak mudah, butuh latihan terus menerus. Semisal hasil sample seorang Densky9 sangat sulit ditebak, bisa dipastikan dia mendengar banyak musik yang saya tidak dengarkan. Jay Beathustler punya kemampuan unik memotong sample, cara berpikir dia tak biasa, banyak kejutan, contohnya saat memotong riff gitar diluar pikiran awal saya kalau dihadapkan pada bangunan
lagu sama.

Prime Manifez sebagai contoh lagi, dia begitu mengerti mengawinkan ketukan drum dengan sample lagu yang ia potong, atau Maverick sering membuat saya terkejut, semisal fade out gitar yang ia jadikan sample, atau Altarlogika yang bisa memanipulasi Bee Gees jadi lebih tedengar Nirvana.

Karya mereka merupakan bentuk kelebihan hip hop itu sendiri, sejauh mana suara dapat dieksplorasi, setidaknya bagi saya yang sering mendapat ide baru setelah mendengar produksi mereka. Lebih baik saya sebut tantangan, sebab saya bingung apa yang dimaksud dengan kekurangan hip hop.

Misalnya, berhadapan dengan orang-orang yang saya temui saat saya uji coba meminta mereka
mendengarkan hip hop, khususnya hasil produksi saya, bahwa musik hip hop punya stereotip
sebagai musik jiplakan bagi mereka yang saya mintai kritik, tapi wajar sebab mereka jarang
mendengarkan jenis ini, tidak orisinal ujar mereka, sebagaimana para pendengar tersebut
membandingkannya dengan band band atau musisi yang menulis lagu juga memainkan instrumen.

Lagi pula hip hop tak ubahnya kolase, potongan suara lalu ditempel jadi bangunan nada baru, mungkin saya berhasil di mata mereka di beberapa track milik saya yang tak terlacak sample nya apa, dan punya komposisi seperti lagu pada umumnya, seolah beat tersebut seperti sebuah band yang sedang bermain alat musik.

Adakah sosok yang kerap kali menjadi inspirasi Senartogok dalam memproduksi musik?

Jackson C. Frank. Setiap saya hendak memproduksi musik baik hip hop atau folk, album sematawayangnya selalu jadi sugesti, entah kenapa. Kalau saya kehabisan ide, saya selalu memutar ulang dua film yakni Pollock dan Modigliani, khususnya pada adegan mereka melukis, bagian itu dapat menghancurkan kebingungan yang saya alami. Sosok Rahar Palsu alias Jagalbabi selalu jadi teman dan pemasok musik-musik fresh untuk saya sampling. Saya menyebut beliau kitab suci musik berjalan. HAHAHA.

Bagaimana biasanya tahapan yang dilakukan oleh Senartogok saat memproduksi musik?

Paling lama adalah mendengarkan rekaman apa saja, ini wajib! Misalnya saya mendengarkan
Godspeed You! Black Emperor, saya menemukan bagian yang cocok saya ambil di menit tertentu. Saya potong, itu saya sebut sample 1, kemudian saya mendengarkan Aphex Twin, bagian yang cocok saya potong lagi, jadilah Sample 2 (begitu seterusnya). Kemudian saya akan memotong bassline dari Jaco Pastorius misalnya.

Setelah terkumpul, saya gabungkan dengan nada dasar sama, selalu mengikuti bass. Barulah saya kawinkan dengan breaks yang cocok, misalnya Funky Drummer milik James Brown. Kemudian saya susun standar: 4 bar intro, 24 bar untuk verse pertama, 8 bar chorus, 24 bar verse 2, 8 bar chorus, dan outro 4 bar.

Semua itu dilakukan lewat software, setelah itu baru saya sesuaikan tempo permintaan sang
rapper, misalnya standar 90 BPM. Lalu saya cetak hasil wav nya per layer kemudian saya proses lagi lewat Boombox, Tapedeck, Mixer, yang tersambung ke soundcard dengan cara direkam ulang.

Ini opsional, sebab saya suka suara yang dihasilkan mesin-mesin mungil itu. Lalu di proses
mixing nanti semua layer baru dicampur dengan acapella. Begitulah…

Adakah peralatan software atau hardware tertentu yang menjadi favorit Senartogok dalam memproduksi musik?

FL Studio 12. Saya tidak punya hardware, sejak awal FL sudah menjadi pacar yang baik menemani saya menguliti sample. Seri terbaru bahkan sudah dilengkapi dengan fitur untuk
drag file lagu berjenis FLAC yang biasanya menjadi format favorit yang saya unduh dari torrent untuk vinyl yang tak saya miliki fisiknya.

Saya menggunakan Adobe Audition 3 juga untuk beberapa keperluan. Intinya saya masih pakai software sejauh ini.

Adakah bidang lain dalam hiphop yang ingin Senartogok dalami yang belum pernah dilakukan sebelumnya?

Sebenarnya saya ingin sekali jadi DJ, Turntablist ya istilahnya? Saya suka melihat video Dangerdope ketika beraksi, saya juga menonton DJ E di beberapa panggung, saya ingin mendalami itu perlahan. Sekarang saya masih mencoba membaca literatur tentang itu baik lewat pdf atau bertanya-tanya langsung misalnya dengan bang Iwan atau kawan-kawan saya yang mengerti mengenai turntable ini.

Semoga Henrikus jadi pulang kampung bulan ini, dia berjanji meminjamkan turntablenya, dan saya berharap bisa memulai niatan ini.

Apa saja target yang ingin dicapai senartogok dalam 2 tahun ke depan? Ingin bekerjasama dengan siapa/rapper yang belum kesampaian saat ini?

Saya ingin sekali  memboyong Tascam Portastudio 424MKII, Sharp GF 777, berguru ke bang Hamzah Kusbiyanto untuk menguasai mixing mastering, ikut andil dalam album Blakumuh, membuat gigs hip hop di ISH Tiang Bendera, punya penerbitan sekelas Jungkirbalik Pustaka, dan meminang seorang gadis.

Saya ingin Danilla atau Frau mengisi salah satu track saya di album solo nanti; mengajak David Hersya bersenandung dalam sebuah track; Mungkin Romo Sunardi mau membacakan puisi di track saya;

Saya juga ingin membuat chorus dari bait “Pabila suatu saat umurku dipacu waktu. Merdekalah dari kungkungan mimpi” oleh Remy Sylado;

Saya ingin remix sekian single Homicide jadi mini album plus booklet pengalaman saya mendengarkan mereka;

Saya ingin berkontribusi sekecil apapun untuk semua debut album dari Alfabeta, Altarlogika, Cielduke, MOTB, Foo, Densky, Don Wilco, Eviction, Dzulfahmi, Fetty Acid, Rappinflat, HDR, Insthinc, Jere, Juta, Kwalik Mega, Tuan Tigabelas, Jarakata, Maderodog, Infrastruktur Katastropi, Sentris, Raptus, Maverick, MG, hingga Pangalo!;

Saya ingin Vulgar-nya Joe Million ada versi Vinyl;

Saya juga berharap dapat membuat kompilasi folk bersama Sisir Tanah, Talamariam, Yab Sarpote, Deugalih, Fajar Merah, Siasat, Dendang Kampungan, Oscar Lolang, Jason Ranti, Agoni, hingga teman-teman dari Rumah Bintang;

Saya ingin memproduksi satu album bersama Doyz;

Saya ingin split mash up bersama Bang Kiki Assaf; dan sebagainya, itu beberapa target yang ingin saya capai.

Apa saja tantangan dan kendala yang dirasakan oleh Senartogok sebagai produser musik?

Tantangan saya hanyalah membagi waktu, sebab saya sudah terikat kontrak iman dengan Perpustakaan Jalanan, Zineorid, ISH Tiang Bendera, dan beberapa media otonom yang saya geluti sejak 2009. Saya ingin semuanya berkembang berbarengan, tak ada porsi berlebih untuk satu kegiatan, sepanjang 2017 ini saya merasa terlalu banyak waktu saya lebihkan untuk hip hop ini, khususnya label kecil maratonmikrofon.

Setiap tahun berganti, beberapa kawan datang dan pergi, menjadi dinamika yang membawa saya
pada pemikiran, kalaupun saya berakhir sendiri menyelesaikannya, saya harus siap. Rasanya
pemikiran itu menjadi kenyataan dari waktu ke waktu bergulir, saya dituntut menuntaskan
apa yang sudah saya bangun sejak awal.

Kendalanya mungkin saya harus berlatih untuk tidak mudah kasihan terhadap rapper-rapper
atau orang-orang sejenis Bass Koplo, Sengon Karta dan Barjow Lembu, saya akui saya mudah
terenyuh di awal, sebab orang-orang ini buruk bagi komunitas atau skena kecil yang hendak
kami bangun. Saya berusaha untuk memperingatkan kawan-kawan dekat yang bisa saja mereka
rasuki agar tidak mengulang kerugian yang saya alami.

Dari sekian rapper yang sudah pernah bekerja sama dengan Senartogok, pengalaman
mana yang dianggap paling berkesan? Bila ada, apa alasannya?

Saya rasa dengan Rand Slam sewaktu kami 6 bulan lamanya memproduksi Rimajinasi. Dua saja
pemantik besar bagi saya untuk ikut terjun ke dunia hip hop, yakni menyelesaikan album
Vulgar Joe Million dan Mengkonstruksi ulang karya Anonymous Alliance. Dua Target itu tercapai awal tahun ini, selesai dengan rasa puas di batin saya, sebenarnya saya berniat
mundur sejak itu.

Akan tetapi saya ingat hari di mana Rand Slam banyak membantu saya dan ingin rasanya membalas beliau. Kami sepakat membuat Rimajinasi selepas ia merilis Johan EP. Kami dalam
kondisi keuangan yang memprihatinkan, dia tak terlalu cocok dengan dunia belajar-mengajar
sebagai guru, saya juga harus menuntaskan hutang dan terlalu sering bermasalah dengan Tibum, Satpol PP dan pengamen setempat, yang membuat saya mencari penghasilan lain diluar
itu.

Kami berpindah kontrakan, beberapa kali kerusakan alat, laptop eror juga data-data sample
yang hilang, belum lagi kondisi kesehatan masing-masing kami, semua itu tercermin dalam salah satu track Rand Slam dengan sample Uang karya Duo Kribo, itu track curhat kami yang
tadinya tidak masuk tracklist Rimajinasi. Mungkin pada kolom inilah saya mengucapkan terima kasih pada mentor, sahabat, sekaligus guru saya Morgue Vanguard, yang banyak membantu kami di masa-masa sulit itu, dan akhirnya kami membangun Def Bloc sebagai wadah selanjutnya.

Atas bimbingan dan kesabaran beliau, intensitas perbincangan, diskusi, proses rilis, dan distribusi CD hingga hari ini, kami punya sedikit rasa percaya diri untuk berkembang lebih, dan abang kami Doyz seakan menyempurnakan semuanya. Rimajinasi merupakan pengalaman
paling berkesan, sebab baik saya maupun Rand Slam (entah dia mengakui atau tidak) album ini, pertemuan dengan dua orang yang saya sebutkan, telah banyak mengubah jalan pikiran kami di masa muda yang berapi-api ini.

Bagaimana tanggapan Senartogok tentang scene hiphop indonesia belakangan ini?

Sebaiknya ini ditanyakan pada pakar hip hop yang biasanya muncul, Asli coy! saya kurang
pandai menilai. Jawaban saya mungkin akan senada dengan potongan wawancara bang Aszi
dan bang Dhito di Raphoria

Bagaimana keduanya berbicara output, baik yang muda dan yang tua, tentang respek juga lompatan yang terjadi di hip hop belakangan ini. Tanggapan mereka juga telah kami lukiskan
di track Maraton Mikrofon mengenai posisi, regenerasi, upaya, dan dinamika yang akan dijalani skena ini kemudian hari.

Artinya, saya begitu optimis terhadap hip hop dimana saya bergiat ini. Tentu saya berharap banyak teman-teman yang mulai bergabung meramaikan ini, seolah saya membayangkan tahun tahun kita berikutnya menjadi masa keemasan hip hop lokal. Di seputar perkawanan saya dengan berbagai pelaku di dalam maratonmikrofon dan Def Bloc, begitu banyak dan beragam upaya teman-teman mencari kemungkinan baru terhadap bagian integral bernama hip hop ini dalam keseharian kami.

Dimulai dengan memproduksi album sendiri karena ini menjadi bagian paling penting bagi kami, kehadiran Medium Rare sebagai opsi pentas dengan asosiasi bebas mulai dari studio gigs di Cipinang, di atap LBH, di Pasar Santa, di kedai mungil Analog Koffiehuis di Sukabumi, Donasi yang bisa disalurkan semisal Rekvmjejvk bagi pengobatan Shabrina, cicilan alat produksi untuk Omahjuju, datangnya para penulis yang mendokumentasikan rilisan rilisan dalam bentuk tulisan, jejaring antar MC yang mulai rapih terkoneksi meski antar kota dan wilayah. Di luar lingkar itu, saya juga banyak mendengar suara-suara dan kegiatan kawan-kawan lain di berbagai tempat. Singkatnya, hip hop belakangan ini sangat pesat berkembang.

Siapa produser musik favorit Senartogok?

Morgue Vanguard.

Siapa rapper indonesia favorit Senartogok?

Doyz.

Comments

comments

ARTICLES HOT INFO PRODUCER

Leave a Reply

*