Hip Hop Bandung: Bakat-Bakat Baru Harus Sering Publikasi

Setelah puas membahas soal Hip Hop Bogor beberapa waktu lalu, kali ini Hiphopindo.net mau coba kulik perkembangan Hip Hop di kota Bandung. Genre musik Hip Hop dan R&B mulai dituruti oleh masyarakat Bandung mulai tahun 1996-an, tapi perkembangannya baru tampak melejit sejak menginjak tahun 2000 di mana hingar bingar Hip Hop Kaki Lima sedang memuncak. Memadukan antara musik Hip Hop yang berasal dari Amerika dengan budaya Sunda asli Indonesia memang nggak gampang. Namun, beberapa nama yang akan dibahas di bawah ini, yang sudah sering kita dengar namanya malang melintang sebagai rapper, beat maker, DJ, atau produser, punya cara tersendiri untuk memperkenalkan genre musik Hip Hop di kota Paris Van Java tersebut.

Pada tahun 2001, sebuah komunitas Hip Hop pertama dan terbesar di kota Bandung terbentuk dengan nama Impartairial. Impartairial juga merupakan satu dari empat komunitas Hip Hop pertama yang ada di 4 kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Jogja, dan Surabaya. Tak hanya itu, Impartairial adalah satu-satunya komunitas Hip Hop yang pernah mengadakan kampanye Hip Hop yang dikemas menjadi acara gathering mingguan yang bertajuk Hip Hop Kaki Lima selama 4 tahun berturut-turut tanpa terputus. Acara tersebut diadakan setiap malam minggu di pinggiran jalan Dago, dari jam 7 malam hingga jam 1 pagi. Namun, sayang pergerakan ini berakhir di tahun 2004.

Tahun 2006, Hip Hop Bandung kembali mengadakan acara gathering yang digelar khusus untuk rapper-rapper yang ada di sana. Acara gathering tersebut bernama “Verse Gathering Session I” yang dilaksanakan di TRL Braga. Namun, kegiatan tersebut belum terdengar lagi kelanjutannya. Hal ini bukan berarti Hip Hop Bandung sudah terpecah belah, justru para rapper Bandung sedang sibuk berkarya dengan musik mereka. Bahkan, grup rap asal Sunda yang selalu menggunakan bahasa daerah dalam lirik lagu mereka, Sundanis, bulan September nanti akan terbang ke Singapura, Malaysia, dan Belanda untuk menggelar konser sekaligus tur keliling negara-negara tersebut. Masih segar di ingatan kita bahwa di tahun 2011 ini pun, Rotra, grup rap asal Jogja yang tergabung dalam Jogja Hip Hop Foundation (JHF) baru saja pulang dari negari Paman Sam.

Wabah musik Hip Hop dan R&B sudah menyebar dan dapat diterima dengan baik di kota pariwisata ini. Salah satu personil Cronik, MC Elick a.k.a Like misalnya, mengaku memilih untuk mendalami musik Hip Hop karena banyak mendapat hidayah positif dari genre musik tersebut. MC Elick mengenal Hip Hop secara otodidak saat masih duduk di bangku kelas 5 SD dan masih tinggal di Jakarta. Berangkat dari hobi mendengarkan musik di radio, nama-nama beken seperti RUN DMC, Rakim, dan Public Enemy pun menginpirasi MC Elick buat belajar nge-rap. Ia mulai berani tampil di acara perpisahan sekolah sampai acara tujuh belasan pada tahun 1993 (SMP) dan 1994 (SMA).

Elick "Cronik" dapat banyak hidayah dari musik Hip Hop

Karier Hip Hop dimulai sejak berkuliah di Bandung dan bertemu dengan kumpulan pemusik hardcore. Tak hanya itu, MC Elick sempat membuat grup bernama Peccadillo (RIP) bersama dengan Dabozzo, DJ Scratchy, dan adik kandungnya, Roczee. Peccadillo sempat mengeluarkan single yang berjudul “Boom Bang”. Di sela perjalanan kariernya yang baru dirintis, MC Elick bertemu DJ E-One dan DJ Iz Flip di Hip Hop Kaki Lima, mereka berenam kemudian sepakat membuat grup Hip Hop dengan nama Cronik pada tahun 2001. Banyak pengalaman yang didapat MC Elick bersama Cronik, di antaranya menjadi juara 1 kompetisi DJ Kolaborasi Se-Indonesia. Setelah single mereka yang berjudul “Dendang Duka Pasca Murka” mulai meledak di pasaran, tahun ini Cronik juga berencana mengeluarkan album.

Menurut MC Elick, kehidupan Hip Hop di kota Bandung saat ini masih tetap asik karena rapper-rapper-nya punya cara sendiri untuk memperlihatkan eksistensinya. Misalnya dengan memanfaatkan media promo untuk tampil di event-event indoor maupun outdoor sambil memperkenalkan single-single mereka di radio. “Menurut gue, jangan Bandung aja yang harus maju, tapi se-Indonesia. Bagaimana kalau Hip Hop se-Indonesia ber-SATU? U.N.I.T.Y! Minimal saling support aja. Setidaknya, mereka punya kepribadian yang baik untuk saling support. Kalau ada battle competition, that’s just a game!” tutur Elick.

Sependapat dengan MC Elick a.k.a Like, Andriyan Malijuana a.k.a Mali menyampaikan hal serupa bahwa saat ini, Hip Hop Bandung masih terus bereksplorasi dengan karya-karya mereka. Dengan detil, Mali menguraikan kalau sekarang semakin banyak rapper-rapper baru yang bermunculan dengan skill yang cukup baik dari segi karakter, lirik, dan performance. B-boys Bandung pun tak mau kalah, mereka mulai mencoba untuk mengadakan gigs beatle kompetisi b-boys. Sedangkan untuk graffiti, baru saja mengadakan acara yang dilaksanakan oleh FAB crew dengan bekerja sama dengan salah satu radio lokal di kota kembang tersebut. Para DJ Bandung juga semakin sering membuat acara di club dengan genre beragam, mulai dari R&B, techno, D&B, dubstep, dan lain-lain.

MALI dukung Hip Hop Bandung yang terus bereksplorasi

Beralih ke rapper lain yang masih berdomisili di Bandung, Ahmad Dhani a.k.a DULE. Rapper yang satu ini antusias sekali ketika di-interview oleh Hiphopindo.net, dan semua jawaban yang disampaikan sangat detil juga panjang. Memiliki jiwa seni sejak berumur 3 tahun dan mulai mendengarkan musik-musik funky juga disko sejak kelas 3 SD, DULE yang sama sekali nggak diwarisi jiwa seni oleh keluarganya ini, mempelajari Hip Hop secara otodidak. Track Afrika Bambaata “Electric Kingdom”, Vanilla Ice, Milli Vannilli, MC Hammer, Snow, 3rd Bass, Snoop, dan Dr.Dre menjadi idola DULE dari dulu sampai sekarang.

Album kompilasi “Pesta Rap 2” yang rilis tahun 1996 menjadi motivasi DULE untuk mulai menulis lirik dan menciptakan lagu. Influence yang besar turut diberikan Adri, personil Sub Base D, salah satu grup rap asal Bandung yang masuk dalam kompilasi “Pesta Rap 2 dan 3”. DULE mulai producing album tahun 1998, tapi belum berani untuk tampil live ke luar. Oktober 2000, DULE pertama kalinya melakukan freestyle di acara gathering Impartairial yang bertempat di BAR69 Bandung, dengan tajuk X’Freedom.

DULE sempat bergabung dalam grup Xhausta bersama Farri a.k.a Lil’G dan Petrina a.k.a Queniex pada tahun 2001, tapi sebelumnya ia membentuk grup duo bersama Lil’G dengan nama Void. Pada saat pertama kali perform dengan Xhausta di acara FH UNPAD, mereka langsung mendapat tawaran untuk bergabung bersama Impartairial. Namun, pada 2004, Xhausta resmi bubar dan pergerakan Impartairial memasuki babak baru setelah pada tahun yang sama mengeluarkan sebuah album kompilasi “Verse Pertama“.

Pada akhir 2004, DULE kemudian mendirikan Fractalmindz Studio. Sebuah home studio yang didirikan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, yaitu menghasilkan karya-karya dalam rangka mengeluarkan album solo. Pada akhir 2007, DULE resmi mendirikan DHC, dengan pertimbangan dan niat tulus untuk membantu rapper-rapper muda yang berdedikasi dengan menyediakan sebuah support system yang berupa studio dan forum diskusi yang diharapkan dapat membantu dalam pengembangan karakter, pola pikir serta skill mereka. DHC ini masih berjalan sampai sekarang dan menghasilkan perkembangan yang memuaskan serta membentuk sebuah keluarga Hip Hop baru di kota Bandung.

DULE rapper Bandung sekaligus produser musik Hip Hop lokal

Hingga kini, DULE masih aktif bermusik dan berusaha untuk mempersiapkan album solo, serta tetap menggerakkan DHC dan Fractalmindz Studio. Tak hanya itu, ia pun aktif di pergerakan komunitas, khususnya di Bandung. Ia juga berkolaborasi dengan beberapa rapper dan musisi non-Hip Hop di Indonesia lainnya. Selain itu, ia tetap melakukan live performance di tiap kesempatan yang ada, dan DULE mengaku belum bosan dengan semua yang dilakukannya untuk musik.

“Sebenarnya bukan aku yang memilih Hip Hop, tapi lebih seperti Hip Hop yang memilih aku karena pada awalnya, di antara sekian banyak genre musik, hanya Hip Hop yang bisa aku mengerti. Setelah itu, Hip Hop bahkan membantuku untuk mengerti genre-genre musik lainnya, bahkan membantuku mengerti banyak hal di kehidupan ini. Hip Hop membentuk jati diri, menggali potensi, membuka wawasan, memberi kepercayaan diri, hingga memberikan teman, sahabat, dan keluarga baru buatku. Bisa dipastikan, walaupun mungkin kelak aku sudah tidak aktif bermusik dan ber-Hip Hop lagi, hasil pemikiran yang diberikan Hip Hop padaku tetap akan terus ada dan menjadi bekal buatku sampai akhir nanti,” tutur DULE ketika ditanya mengapa memilih Hip Hop sebagai musik yang mencerminkan kepribadiannya.

Berbicara soal Hip Hop Bandung, menurut DULE, Hip Hop di kota kembang tersebut masih bergerak di kantung pergerakan masing-masing, semacam basecamp tersendiri. Keseluruhannya bertemu dan berkumpul serta bersilaturahmi hanya pada event-event komunitas saja. Di luar itu, rapper-rapper Bandung bergerak sesuai kebutuhan dan tujuan masing-masing, tapi tentunya dengan tetap saling koordinasi dan menjaga silaturahmi serta tetap menjalin komunikasi. Persahabatan tentunya menjadi modal dasar pergerakan mereka sehingga saling respect selalu bisa terjaga. Tak dipungkiri, para anggota komunitas Hip Hop pun sering mengalami pergesekan-pergesekan yang lantas menimbulkan konflik.

Namun, hingga saat ini rapper-rapper di Bandung juga tetap saling respect, contoh kecilnya, jika ada satu orang atau grup yang perform di sebuah acara, beberapa dari mereka yang nggak perform hari itu biasanya datang untuk menonton dan menunjukkan dukungannya, dan selalu begitu. Bisa dibilang pergerakan komunitas Hip Hop di Bandung sangat underground. Mereka tidak begitu kelihatan di permukaan sehingga kalau tidak mempunyai link dengan bagian dari komunitas maka akan sulit sekali menemukan anak Hip Hop di Bandung.

“Akan tetapi, itu merupakan sesuatu yang bagus menurutku ketimbang kita selalu muncul di tempat-tempat publik secara rutin dengan gaya dan dandanan Hip Hop hanya untuk nongkrong dan tidak menghasilkan apa-apa. Aku pribadi tentunya lebih memilih mengurung diri di studio dan menghasilkan materi-materi baru,” tambah DULE.

Selain itu, DULE juga menyampaikan bahwa Hip Hop Bandung secara komunitas sudah cukup baik dan berkembang. Selalu ada bibit-bibit baru yang punya motivasi dan kemauan keras. Namun, secara industri, Hip Hop Bandung masih belum baik karena banyak bakat-bakat bagus yang masih belum ter-expose secara baik sehingga tak dikenal oleh masyarakat luas, khususnya di luar kota Bandung. Bandung masih belum mempunyai industri musik Hip Hop yang memadai untuk menampungnya.

Di akhir obrolan, DULE juga menyampaikan bahwa Hip Hop Bandung seharusnya lebih sering melakukan publikasi ke luar. “Hip Hop Bandung harus lebih sering public appearence aja karena selebihnya aku rasa sudah cukup baik. Dengan muncul ke hadapan publik, kita bisa mendapatkan feedback yang berbeda dengan yang diberikan oleh komunitas sehingga bisa menjadi bahan yang bagus buat pengembangan karakter kita ke depannya. Hip Hop Bandung juga harus sesegera mungkin mendirikan basis pergerakan indusri musik Hip Hop yang memadai sehingga bisa mengorbitkan bakat-bakat Hip Hop yang ada di Bandung secara nasional,” ujarnya.

Mudah-mudahan harapan dari rapper-rapper senior ini bisa menjadi masukan yang berarti bagi industri Hip Hop di Bandung, khususnya, dan di Indonesia, umumnya. Meskipun tidak kelihatan di luar, tapi tetap berkarya di dalam. Itulah yang menjadi pegangan Hip Hop Bandung saat ini, tapi itu semua tidak akan terlepas dari media komunitas yang selalu setia mendampingi, melayani, dan menginformasikan segala sesuatu yang terjadi di komunitas Hip Hop Indonesia.

Salam Hip Hop!

Comments

comments

ARTICLES INDONESIA

3 Comments

  1. saya harap lebih terpublikasi bakat-bakat baru dalam hip hop,dan media lebih peka agar lebih terpublikasi bakat”hiphopers.

  2. dede s.z Reply

    Klw mau tau,tempat nya d mna,aq sendiri suka, rap,hip hop
    Aku sendiri juga pengen belajar,dulur.

Leave a Reply

*