Filastine & Nova – Album Baru Drapetomania

Bertitel “Drapetomania” yang mengusung sikap melawan semua gejala xenophobia, serta gagasan soal dunia yang luas tanpa batas.

Duo musisi lintas kebangsaan, Filastine & Nova, baru saja melepas album anyar bertitel Drapetomania untuk pasar Indonesia. Album ini dirilis oleh Omuniuum (Bandung) dalam format CD dan sudah didistribusikan mulai 10 Juni 2017.

Drapetomania_filastine-indonesian-hiphop

Sebelumnya, Drapetomania telah dirilis secara internasional oleh label rekaman Post World Industries dalam format digital dan fisikal (CD dan piringan hitam), sejak 28 April 2017 lalu.

Drapetomania merupakan karya kolaborasi terbaru antara Grey Filastine (produser / komposer) dari Amerika Serikat dan Nova Ruth (vokal) dari Indonesia. Duo musisi yang sekarang bermukim di Barcelona (Spanyol) ini meramu komposisi elektronik dan akustik yang bersumber dari berbagai bebunyian. “…from pop and wildly experimental, from roots music to future bass,” menurut istilah mereka.

Melalui Drapetomania, Filastine & Nova memang bermaksud melawan semua gejala xenophobia, dan membawa gagasan soal dunia yang tidak mengenal batas. Secara musikal, mereka berambisi membangun komposisi lagu dan kolase sound dengan pendekatan kontemporer yang multi budaya. Grey memasukkan unsur bebunyian khas Afrika, Asia, Arabik, hingga gamelan Jawa di antara deru musik elektronik, drum & bass, industrial, dan dubstep. Nova Ruth pun menulis lirik dan ‘bernyanyi’ dalam bahasa Inggris, Indonesia, bahkan langgam Jawa.

Sikap ‘menolak batas’ itu tidak hanya tercermin dari musik dan liriknya saja. Dalam prosesnya pun, Filastine & Nova juga merekam materi Drapetomania di berbagai tempat yang mereka rancang sebagai ‘studio musik’ dadakan. Seperti di perahu kayu saat mereka berlayar di Samudera India, berkunjung ke dusun yang berdebu di Sahara, hingga pada berbagai ruang urban di Brooklyn sampai Barcelona.

Filastine-Nova_Julieta_Feroz

“Sebenarnya, mengerjakan [album] ini secara nomaden bukanlah pilihan sadar kami, melainkan tergantung negara mana yang bisa kami datangi dan berapa lama dijinkan tinggal di sana. Pengalaman saat melintasi berbagai batas negara itu yang kemudian membentuk lirik-lirik kami, bahkan mempengaruhi seluruh proses pengerjaan album ini,” ungkap Grey soal proses kreatif Filastine & Nova yang suka berpindah-pindah tempat dan kerap terbelit masalah visa di beberapa negara.

Album Drapetomania ini berisi total 12 track. Di dalamnya juga memuat 4 karya audio-visual yang sempat dirilis sebagai episode dari serial Abandon: “The Miner” (Maret 2016), “The Cleaner” (Mei 2016), “The Salarymen” (Oktober 2016), dan “Los Chatarreros” (Februari 2017). Abandon merupakan serial video musik yang mengambil satu tema utama yaitu tarian pembebasan dari kelas pekerja atau buruh yang tertindas (dances of liberation from degrading work).

Sebelum melepas Drapetomania, Filastine & Nova juga sempat merilis satu singel berjudul “Perbatasan” pada 31 Maret 2017. Lagu ini terinspirasi dari pengalaman mereka saat tampil di Calais Jungle, sebuah kamp migran di Perancis.

Video musik “Perbatasan” dibikin oleh rumah produksi Arkamaya Images (Malang). “Itu semua take video-nya pas di Malang, cuma tiga hari kok syutingnya. Prosesnya lancar-lancar saja, gak ada kendala, soalnya Grey dan Nova sudah punya konsep dan gambaran yang jelas tentang apa-apa saja yang ingin ditampilkan,” tutur sang sutradara, Rahadyan Amandita, menceritakan proses penggarapan video musik “Perbatasan”.

Titel Drapetomania sendiri diambil dari istilah diagnosa medis di abad 18 untuk menyebut budak atau buruh yang ingin berontak atau kabur, di mana saat itu tindakan mereka dianggap sebagai sebuah penyakit mental. Konsep pembebasan buruh seperti itu pernah digambarkan dalam empat video serial Abandon – yang kemudian dibawa juga ke dalam sesi tur dan pertunjukan Drapetomania yang selalu menggabungkan performa live music, video sinematik, dan tarian.

Pada album Drapetomania, Filastine & Nova juga menggandeng sejumlah musisi untuk diajak berkolaborasi, seperti misalnya Brent Arnold (cello), Safril (suling), Gondrong Gunarto (sitar, kendang, ukelele), Scott Adams (akordion), hingga Totok Tewel (gitar).

“Abah juga akan berangkat ke Belanda, ikut tampil membantu show kami di Holland Festival,” kata Nova Ruth menyebut nama ayahnya, Totok Tewel, yang dikenal sebagai gitaris rock legendaris dari grup band Elpamas serta pernah membantu Iwan Fals, Swami, dan Kantata Takwa. Selain Totok Tewel, juga ada nama Gondrong Gunarto dan Wirastuti Susilaningtyas yang bakal bergabung dalam pertunjukan Filastine & Nova di Holland Festival, 16 Juni 2017.

Saat ini, Filastine & Nova sedang melakoni Drapetomania Live 2017, sebuah tur dalam rangka promosi album barunya ke beberapa negara. Sejak bulan April 2017, mereka telah berkeliling ke wilayah Eropa dan Amerika Utara. Selanjutnya, Filastine & Nova juga rencananya akan menyambangi Indonesia (September) dan Australia (Oktober).

CD Drapetomania yang dipasarkan di Indonesia bisa didapatkan melalui berbagai record store, di antaranya Omuniuum (Bandung), Lawless (Jakarta), Warung Musik (Jakarta), atau Solidrock (Malang).

//dikutip dari pressrelease Drapetomania

Comments

comments

ARTICLES HOT INFO RAP

Leave a Reply

*