Doyz – Individu Saat ini Tidak Siap untuk diKritik

Sebagai rapper yang merasakan kegemilangan Hiphop di dua era, yakni era 90’an dan era kini, Doyz da Noyz tentu memiliki sudut pandang yang luas mengenai scene Hiphop Indonesia. Tak hanya itu, Doyz juga telah merasakan melenggang dalam dunia Hiphop tanah air dalam grup, bersama Erik Probz di Blakumuh dan bersama SweetMartabak di grup P-Squad

Tonton cerita Doyz di #BlackBook

Sempat vakum selama 13 tahun lamanya setelah merilis album Perspektif tidak membuat Doyz semata-mata terlepas dari dunia Hiphop. Peningkatan kualitas diri dengan memperdalam Hiphop justru ia lakukan pada saat itu, baik melalui pengamatan terhadap pertunjukan Hiphop asal Indonesia maupun luar.

Oleh karena itu, wawancara singkat yang dilakukan dengan sosok yang juga pernah menjadi backing Rap untuk Iwa K saat kejayaan album kompilasi Pesta Rap, menjadi menarik karena ia tidak hanya melihat Hiphop pada masa sekarang, tetapi juga melihatnya sebagai komparasi dengan era sebelumnya.

Sebagai rapper yang merasakan masa keemasan pada tahun ’90an kira-kira apa tips dari Doyz untuk mengembalikan masa2 itu bila dilihat dari tingkat awareness dan respect?

Membandingkan masa lalu dan sekarang, pastinya akan ada titik pemisah yang namanya; kemajuan teknologi. Dan ini sangat signifikan. Kehadiran internet telah merombak kehidupan di banyak lini. Revolusi teknologi ini mau tidak mau menghadirkan banyak hal, baik itu positif maupun negatif.

Dari sisi positif, jelas begitu banyak poin yang bisa di ambil, terutama dalam hal kemudahan. Utamanya dalam konteks arus informasi. Dalam sekejap, manusia modern bisa dengan mudah memperoleh informasi yang mereka inginkan. Dalam ranah musik, utamanya rap, dengan segala kecanggihan ini, membuat banyak lahirnya program-program (musik) yang membuat semakin mudahnya pembuatan dan pendistribusian karya.

Jelas, Ini adalah sebuah keuntungan. Rap, sebagai salah satu elemen penting dalam Hip-Hop, paling besar terkena dampak dari revolusi ini. Tidak ada lagi kesulitan dalam mengolah karya. Baik dari sisi pra maupun pasca produksi. Sayangnya, segala kemajuan ini, cenderung memojokkan tiap individu ke dalam zona nyaman.

Kegiatan-kegiatan sosial yang bersifat organik hampir tergantikan dengan kegiatan digital. Di sinilah dampak negatif itu timbul. Dengan mudahnya interaksi sosial yang bisa di dapatkan di era ini, membuat cukup banyak norma sosial bergeser. Manusia hampir tidak lagi mengenal kearifan-kearifan dalam menjalankan interaksi sosial yang banyak di dapatkan dengan melakukannya secara organik, secara face-to-face.

Saya rasa hal inilah yang menyebabkan tumpulnya awareness dan respect ke satu sama lain. Internet bak pisau bermata dua. Dan ia telah menyelesaikan tugas yang tidak mampu di selesaikan oleh teknologi semacam televisi konvensional; Mensoliterkan raga & pikiran secara total.

Oleh karena itu, ada baiknya kita tidak take internet for granted. Gunakan seperlunya. Sisanya, kegiatan macam diskusi organik harus terus dipelihara. Saya yakin, jika ruang untuk berdiskusi dan berinteraksi secara organik terus di jaga, maka akan banyak lahir manusia-manusia yang aware dan menghormati lingkungannya, alamnya. Ada hal yang memang harus di lakukan dengan gaya lama. Istilahnya; Kick it in a old school way.

Karena hakikat dalam interaksi sosial organik adalah berbagi. Sharing. Dan itu dilakukan secara langsung. Pada prinsipnya, berkomunikasi lewat medium teks (pondasi utama komunikasi digital) itu tidaklah sama dengan komunikasi verbal secara langsung. Dalam teks, tidak ada dikenal yang namanya intonasi. Akan banyak mispersepsi yang di hadirkan tanpa kita mendengar intonasi lawan bicara kita.

Apa resolusi Doyz untuk tahun 2017? Kebetulan baru juga terlihat ada kerjasama lagu bertema sosial dengan MorgueVanguard dan Single baru bersama JoeMillion, apakah ada kelanjutan dalam bentuk album baru atau bahkan bersama Blakumuh?

Sebenarnya saya bukan tipikal orang yang gemar membuat resolusi. Saya hanya ingin terus belajar dari kekurangan yang saya miliki secara personal, di tiap-tiap tahun. Jadi tidak ada resolusi yang spesifik untuk tahun ini. 

Jika bicara dari sisi musik, memang saya dan ucok (Morgue Vanguard) sedang menyiapkan sebuah single bertema isu sosial, berjudul; ‘Check your people.’ Awalnya sejak kwartal terakhir tahun lalu, kami berdua berniat membuat single yang niatnya akan di sandingkan dengan ‘Testamen’ single kolaborasi kami sebelumnya ke dalam bentuk vinyl 7″.

Dalam ‘Testamen’ kami sudah berbicara tentang sejarah awal masuknya Hip-Hop ke tanah air, dan pengaruhya bagi kami. Dengan demikian, kami mencoba membuat tema yang berbeda. Ide dasar tentang tema tersebut, di gelontorkan oleh Ucok, yang menganggap bahwa era kami untuk Check the mic sudah di ambang senja.

Jadi kini adalah saatnya bagi kami untuk Check our people. Kemudian ide tersebut seolah semakin diperkuat dengan tendensi spontan kami untuk menyumbangkan single tersebut sebagai kontribusi bagi masyarakat lereng Gunung Ciremai yang sedang berjuang menentang program penambangan panas bumi. Semoga saja proses finishing lagu ini cepat selesai, agar kami dapat segera mengirimkan datanya kepada kawan-kawan di Cirebon yang memprakarsai program ini. 

Sedangkan dalam single bersama Joe Million yang anda sebutkan tadi, sebenarnya kolaborasi dalam track tersebut tidak hanya bersama Joe. Terlibat di dalamnya juga adalah Senartogok, dan Rand slam. Ide awalnya adalah ajakan saya kepada Senartogok untuk berkolaborasi membuat lagu baru, ketimbang membuat re-mix untuk track-track lama saya (Senartogok ini teramat sangat produktif dalam membuat beat Re-mix lagu kawan-kawan skena lokal. Bayangkan, hanya dalam kurun waktu 1 bulan, ia bisa me re-mix puluhan lagu dari puluhan artis rap yang berbeda.)

Kemudian gayung bersambut, dengan Senartogok membawa bala bantuannya; Joe mill & Rand slam. Saat ini track tersebut sedang menuju proses mixing yang proper. Semoga track berjudul; Maraton Mikrofon ini, bisa di lepas dalam waktu dekat. Intinya saya merasa sangat bangga dan terhormat, bisa berbagi mikrofon dengan generasi baru yang bedebah ini.

Untuk album baru, rencananya saya berniat untuk melunasi hutang lama saya; Membuatkan album penuh untuk Blakumuh. Di tunggu saja.

Adakah rencana untuk kolaborasi dengan musisi diluar Hiphop? Jika iya, dengan siapa?

Ada. Dengan seorang beat maker drone/ambient/Break beats ber-moniker Maverick. Sebenarnya Maverick tidak terlalu diluar-luar amat Hip-Hop sih. Mengingat dia ini selalu mengikuti perkembangan rap dan Hip-Hop. Namun berhubung dia memang tidak berasal dari skena Hip-Hop lokal, saya bisa menganggap kolaborasi dengannya, ke dalam kriteria yang anda tanyakan.  Sudah setahun lebih rencana kolaborasi ini di canangkan. Namun faktor aktivitas harian kami yang membuat rencana ini tertunda terus.

Album “Oblivion” menyinggung tentang pamor, pencarian jati diri, dan pencitraan yang berlebihan. Menurut Doyz, apakah Hiphop, khususnya rap, dengan fenomena Youtube saat ini sedang dalam situasi yang sesuai dengan yang digambarkan pada album tersebut?

Ya memang kondisinya seperti itu. Ada hubungannya dengan jawaban saya di pertanyaan nomor satu. Era revolusi teknologi yang telah meminggirkan ruang interaksi organik, telah melahirkan banyak individu yang egosentris. Mereka berlomba-lomba mencari panggung eksistensi diri.

Sebenarnya hal kompetitif seperti ini bagus, asalkan interaksi dan diskusi organik tadi tetap di pelihara. Karena dengan kegiatan tersebut, manusia akan lebih terbiasa dengan yang namanya komunikasi verbal yang hakiki; Mengeluarkan pendapat dan menerima pendapat. Dan nantinya mereka akan terbiasa dengan kritik. Baik itu mengkritisi maupun di kritisi. Karena yang sering terjadi saat ini adalah; banyaknya individu yang dirinya tidak siap saat di kritisi. Tidak sama halnya dengan saat mereka melontarkan kritik.

Mengenai Rap dan konten era kini yang dianggap mengalami deklinasi, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut menurut Doyz, apa elemen yang harus di-elevate atau raise the bar?

Lagi-lagi masih terkait dengan jawaban-jawaban saya di atas. Elemen yang hilang adalah komunikasi organik. Mereka yang besifat egosentris memiliki kecenderungan untuk tidak mau mendengar pendapat orang lain. Seringkali mereka merasa karyanya sudah masuk kategori top of the line, padahal jika di lihat dari segi estetika, belum tentu memenuhi syarat.

Belum lagi faktor inferioritas yang di wariskan rezim Orde baru. Terkadang membuat kita sukar untuk memberikan pendapat yang obyektif terhadap karya kawan kita sendiri. Kita menjadi sangat pantang mengatakan kalau karya kawan kita itu jelek, jika memang jelek, dan bagus jika memang bagus.

Semua di pukul rata macam acara gambar menggambar zaman dulu; Bagus. Padahal faktor saling mengingatkan itu sangat penting untuk melahirkan karya yang memang bagus. Jadi komunikasi organik inilah yang harus di-elevate. Kalau secara talenta, saya rasa sudah mulai banyak generasi baru yang telah memberikan pembuktian.


Apa saja hal penting yang bisa diambil dari kesuksesan dunia Hiphop internasional, seperti Hiphop asal Amerika, dan yang bisa diterapkan untuk kemajuan Hiphop Indonesia?

Saya rasa letak kemajuan mereka adalah di sistem manajemen dan juga self determination. Praktisi Hip-Hop internasional maju karena mereka piawai dalm memenej diri dan juga karya mereka. Dan mereka gigih dalam melakukan hal itu. Memang tidak bisa serta merta di generalisir dengan kondisi yang ada di tanah air.

Tingkat ekomoni sangatlah berpengaruh dalam hal kegigihan dalam berkarya. Di tanah air, kadang banyak orang (termasuk saya) pikirannya terbagi-bagi, antara menyediakan makanan di meja makan keluarga dan berkarya dalam musik. Untuk bisa fokus bermusik memang tidak mudah. Tentu saja ini dilihat dari perspektif orang-orang yang memang tidak mencari makan lewat musik. Namun bagi mereka yang posisinya lebih beruntung dari saya dan kawan-kawan yang senasib, saya rasa tidaklah sulit.

Tinggal menempa kebulatan tekad dan mempelajari sistem manajemen yang baik. Saya rasa dua hal itu yang bisa di teladani dari kancah internasional. Dan memang, seperti Ucok Homicide katakan dalam wawancaranya dengan salah satu media lokal; Generasi sekarang memiliki kesempatan yang lebih mudah untuk berkarya, tanpa harus di dikte oleh industri. Karena secara teknologi, generasi sekarang tidak lagi tersekat oleh kesulitan-kesulitan yang di alami oleh generasi kami. All they have to do is work harder and know they purpose.

Apakah ada bidang lain dalam Hiphop yang ingin didalami selain yang terkait dengan rap?

Banyak. Antara lain bercocok tanam dan juga pelestarian hewan yang terancam punah. Dua hal ini sedang saya pelajari saat ini. Saya punya cita-cita untuk menghabiskan masa tua di pedesaan. Jauh dari hingar bingar dan gemerlap perkotaan. Dan juga untuk memperkuat karakter keturunan saya di kemudian hari. Agar mereka lebih memiliki empati terhadap alam dan lingkungan mereka. 

Beberapa saat yang lalu sempat terjadi perseteruan antara rapper senior dan rapper muda yang sedang disorot masyarakat, sebut saja antara Iwa K dan Young Lex hingga Young Lex dilemparin botol saat manggung, Menurut Doyz, apakah hal ini termasuk hal positif karena membuat masyarakat lebih menoleh kepada scene hiphop lokal, atau sebaliknya?

Sebenarnya saya paling malas menanggapi pertanyaan ini. Akan tetapi ada dual hal yang harus di garis bawahi mengenai perseteruan antara Young Lex dan Iwa K. Antara lain; Banyaknya orang awam yang ingin tahu tentang skena Hip-Hop lokal, dan juga banyaknya pemain lama yang hiatus, aktif kembali. Itu saja. Saya pribadi tidak terlalu minat dengan segala kontroversi tersebut.

Siapa rapper favorit Doyz, baik rapper indonesia maupun internasional 2016 kemaren?

Rapper lokal pendatang baru favorit saya di 2016 ada 5; 
1) Joe Million
2) Insthinc
3) Rand slam
4) Matter
5) Kwalik Mega

Mereka berlima ini masuk dalam kategori MC generasi muda yang sangat bedebah dalam mendistribusikan rima mereka masing-masing. Dan yang paling mencolok adalah Joe Mill. Dia berhasil keluar dari lingkup balon busa secara orisinil. Flow dan delivery dia begitu berbeda dari rapper-rapper lokal yang hadir sebelumnya. Dia tidak mengadaptasi flow yang umumnya di adopsi oleh banyak rapper lokal; Flow Pesta rap, Flow Homicide, dan Flow Doyz 

Joe berhasil menciptakan gayanya sendiri. Pun dengan gayanya memilih diksi. Meskipun sangat terlihat pengaruh Eminem di diri Joe, namun tidak serta merta dia meniru mentah-mentah gaya dari Sang Rap God tersebut. 

Insthinc dan Rand slam adalah pandai kata. Matter punya flow yang dinamis (masih menantikan dia berima penuh dalam bahasa indonesia.), dan Kwalik mega begitu bergairah merepresentasikan gaya raw rapper-rapper khas Sumatra. Bagi saya 2016 cukup menggairahkan dalam skena lokal, dengan munculnya rapper-rapper yang berkualitas.

Yang patut di catat ada juga Cru Father said asal Nusa Tenggara Timur. Belum banyak informasi yang bisa saya dapatkan mengenai kolektif satu ini, karena masih bersifat minim. Atau mungkin anda sebagai orang media, bisa bantu saya dalam melakukan ini? 

Untuk kelas umum lokal, yang rilis karya di 2016, saya masih pegang Bars of Death. Tahu sendirilah kenapa. 

Sedangkan untuk ruang internasional cuma ada Tribe called quest dan Run the jewels, yang begitu nempel di kuping dan pikiran saya. Dua kolektif rap tersebut, saya rasa berhasil merilis album yang brilian.

DoyzdaNoyz

DoyzdaNoyz

Siapa yang kerap kali menginspirasi Doyz saat membuat lagu?

Orang-orang di dalam lingkungan saya. Baik itu orang dekat maupun mereka yang terpinggirkan. Dari dulu hingga sekarang, saya tidak pernah mematok; harus terinpirasi oleh individu yang spesifik. 

Bila lagi manggung, apa favorit Doyz dalam memilih outfit, any spesific brand?

Di usia sekarang, rasanya malas sekali memikirkan outfit atau berdandan. Karena saya lebih suka memikirkan apa yang harus saya lakukan di atas panggung untuk membuat konten lagu saya menjadi tidak membosankan, ketimbang memikirkan saya harus pakai baju apa. Jadi tidak ada spesifik brand. Apalagi saya sekarang lebih suka memakai produk-produk lokal produksi kawan sendiri; Seperti produk DripsNDrops, Uprock 83, dan Grimloc. Ataupun produk dan kaos band/kolektif rap dari kawan-kawan di skena lokal.

Adakah pesan atau shout out yang ingin disampaikan kepada pembaca hiphopindo.net?

Berangkat dari keprihatinan yang saya sebutkan di atas, semoga akan lebih banyak praktisi di ranah domestik yang ingin kembali membuka ruang-ruang interaksi yang bersifat organik. Agar makna ‘Respect’ dapat lebih dipahami secara natural. Respect yang tentu saja bukan dari generasi muda ke generasi tua. Namun respect yang juga di alamatkan oleh generasi tua ke generasi muda. Dan juga agar awareness terhadap lingkungan sekitar bisa lebih di asah.

*Sumberfoto: koleksi Doyz

Comments

comments

HOT INFO INDONESIA RAP

1 Comment

  1. tenken kodachi Reply

    apalah debat paslon tanpa ira koesno

Leave a Reply to tenken kodachi Cancel reply

*