Bukan Sekadar Perka-RAP

Suara dentum kick and snare menemani saya memulai pembahasan ini. Saya tentu bukan termasuk barisan rapper legendaris, juga bukan yang bisa dianggap berbahaya seperti beberapa yang sudah didaulat oleh media. Saya hanya merasa terpancing untuk menulis saat mendengar lagu berjudul Bon Voyage milik Ras Kass dari album Blasphemy:

Rap got corny, started spittin’ bars electro

But thanks to real hip-hop, I’m inspired

And I will not stop, I will fill that spot

Planes, trains and fast cars, hope my wheels don’t pop

Money, my, my, my, Jonny Gill on guap

Rest in peace Eazy-E, rest in peace Biggie

Rest in peace 2Pac, I know y’all can hear me

R.I.P. Punisher and Jam Master Jay

R.I.P. Proof, Eazy-E and Mac Dre

Rest in peace Big L and ODB

Rest in peace J Dilla and Pimp C

Salute Nelson Mandela

*Video Rass Kass Bon Voyage

Bersyukur, itu ungkapan saya dapat mengenal kultur yang lahir dari kehancuran komunitas karena sistem kapiltasime dan rasisme, sebelum kultur ini terkena komodifikasi, dan masuk ke dalam moda produksi kapitalisme.

Banyak musisi secara independen dan organik melakukan pengorganisiran dengan memuntahkan gagasan-gagasan. Barisan lirik dan senandung berbunyi dalam gang-gang sempit kota New York tentang alienasi pribadi mereka sebagai manusia yang harus bekerja dengan apresiasi rendah. Piringan hitam dicabik-cabik untuk menunjukan kepedihan hidup atas terpenjaranya hak hidup mereka. Gambar-gambar tersebar dalam sudut sempit kota sebagai ekspresi atas keberadaan mereka, hingga tarian kejang yang tidak lebih menyakitkan daripada absennya jaminan sosial, hak politik dan kewarganegaraan.

Musik Hip Hop lahir dalam suasana yang sangat sesak, kultur serupa diamond muncul dari tumpukan abu. Pengalaman pahit penculikan dan penindasan menjauhkan mereka dari leluhur dan tanah kelahiran. Dibentuk melalui kekerasan dan kepatuhan sebelum akhirnya dijadikan babu, Hip Hop muncul sebagai harapan ditengah kebisingan serta rutinitas yang membuat jemu.

Keterdesakan tidak melumpuhkan mereka untuk menggali akar budaya. Resesi ekonomi dibarengi tingginya harga kebutuhan pokok memaksa mereka untuk menjual narkoba, mencuri, merampok hingga membunuh. Hip Hop adalah Zeitgeist dalam buruknya tata kelola pemerintah yang rasis bukan hanya terhadap budaya melaikan mereka sebagai manusia. Izinkan saya menyebut Hip Hop sebagai sumbangan kebudayaan tersebesar dalam kultur perlawanan yang digawangi kawan-kawan kulit hitam.

Saya akan membahas satu domain yang lahir dari rahim budaya ini. Sebelum saya membicarakan Rap secara spesifik, baiknya pembahan tentang musik saya sajikan sekedar memberi gambaran umum. Musik merupakan produk kebudayaan dimana pemunculannya beriringan dengan pemunculan suatu bangsa, telah tumbuh di berbagai tempat di dunia dan menjadi bagian dari sejarah dan peradaban bangsa-bangsa di dunia. Musik berkembang layaknya kehidupan manusia, tidak hanya di tataran ritual sakral, musik menjadi dirinya sendiri dalam tataran disiplin ilmu dan kesenian dan menjadi pembahasan khusus sejak era Pythagoras.

Kemajuan peradaban manusia dipicu oleh munculnya gagasan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang biasanya muncul dari alam bawah sadar, dan memanggil kembali ingatan atas pengalaman nenek moyang mereka, demikian menurut Carl Jung. Musik disebut sebagai karya, manifestasi perasaan manusia terhadap apa yang dihadapi dalam kehidupannya. Pada wilayah kesenian serius (terdapat dua kategori idealisme dalam kesenian) bahwa karya seni, termasuk musik, adalah kritik bagi kehidupan, ia juga potret dari kehidupan, ada yang bersifat temporal, terikat oleh waktu dan tempat tertentu saja seperti halnya musik pop, ada juga yang abadi sebagaimana tercermin dalam kesenian tradisional bangsa-bangsa di dunia, di dalamnya tersimpan nilai-nilai estetika dan etika yang selanjutnya kita kenal dengan istilah local wisdom atau “kearifan lokal” yang universal dan menjadi dasar atas gagasan serta perilaku sebuah bangsa.

carl-jung

Musik adalah obyek, ia bisa dijadikan apa saja tergantung bagaimana manusia memperlakukannya. Sebagaimana karya-karya seni lainnya, juga produk-produk kebudayaan lainnya, tidak hanya seni. Ia mampu merasuki jiwa dan membangkitkan perasaan hingga mempersatukan bangsa-bangsa, ia memiliki sifat universal, bahasa musik adalah bahasa yang bisa dimengerti oleh semua suku bangsa, ia juga mampu menjembatani manusia secara lahir dan batin, dari segi ekonomi dan mata pencaharian ia juga produk peradaban yang bisa diperjualbelikan dalam rangka mensejahterakan manusia melalui jalan industri seperti pada masa sekarang. Tetapi ia juga mampu menjadi perusak, yaitu ketika musik semata-mata hanya menjadi barang komoditi yang tidak berisi, ketika orang tidak lagi memasukkan nilai kitik, seruan dan semangat perbaikan, hanya untuk mendulang uang, maka ia akan menjadi senjata yang membunuh manusia karena semakin terjauhkan dari nuraninya, dari nilai-nilai, beralih pada pencapaian materi semata.

Yap, kurang lebih seperti itu gambaran saya tentang musik. Salah satu bagian dalam budaya hip hop yang memiliki hubungan erat dengan uraian tentang musik diatas adalah rap. Rap muncul sebagai bentuk ekspresi atas diskriminasi, pembatasan lingkungan dan pergaulan serta tekanan ekonomi. Wujud dari ekspresi murni komunitas kulit hitam yang mengalami penculikan saat menjadi budak. Melihat rap sama dengan melihat eksistensi mereka dalam kehidupan sehari-hari yang dialami. Biarkan mereka menikmati musik yang dapat mereka akses, Karena saat itu hanya kalangan bangsawan yang dapat mendengarkan alunan musik klasik dalam sebuah pertunjukan sebagai budaya mainstream. Muncullah rap dalam kategori subkultur dari budaya mainstream kulit putih, sebuah musik yang diciptakan untuk, oleh dan bagi mereka sendiri. Menurut Pierre Bordieu, selera musik merupakan bentukan sosial. Hal ini melibatkan kekuatan sosial yang berseteru antara yang menguasai dengan yang dikuasai di dalam masyarakat secara terus menerus. Melalui cara sosial ini, kognisi individu mengalami pembentukan yang disebut habitus.

pierre-bordieu

Dalam gagasan ilmu politik, rap secara khusus saya posisikan sebagai sarana pertukaran dan persebaran nilai. Padangan ini memposisikan rap atau musik secara umum sebagai entitas yang tergantung pada eksistensi manusia. Kehadiran rap merupakan alat untuk memperkuat posisi seseorang atau komunitas secara sosial, kultural maupun politis. Maka sebuah musik tergantung pada kepentingan manusia sebagai pencipta musik. Kembali menurut Bordieu, habitus adalah struktur yang mengklasifikasi watak dan perilaku seseorang. Perilaku seseorang dibentuk oleh struktur kebudayaan yang rumit melalui proses perseteruan dan dialektika di dalamnya.

Pada taraf habitus, Judgement (pertimbangan) dibuat bukan lagi sebagai hasil refleksi yang panjang, tetapi menjadi suatu tindakan refleks manusia melalui kognisinya. Penjelasan ini membantu memahami rap muncul dalam dinamika sosial dan politik yang terjadi masa itu. Sekitar tahun 1970-1980an banyak rapper membahasa melalui lirik mereka tentang kondisi kegagalan system ekonomi yang jatuh kedalam neoliberalisme, dimana tidak ada lagi harapan Keynes tentang trickle down effect. Kesadaran pemuda-pemuda kulit hitam dan latin muncul untuk menuntut hak ekonomi dan politik mereka. Pada masa itu resesi ekonomi terjadi sangat parah, minimnya lapangan perkerjaan, pembiayaan pendidikan yang rendah, serta pemotongan jaminan sosial secara besar-besaran. Tanpa mengkerdilkan rap itu sendiri menurut bordeau tentang habitus, menunjukan tingkat dan strata terhadap selera manusia dalam musik. Tingkat ini ditentukan dari kualitas yang dapat dinikmati manusia melalui sensasinya. Seni yang lebih tinggi tercipta dari pengetahuan serta pola pikir manusia yang lebih cerdas. Dalam hal ini, rap muncul dengan instrument serta Bahasa yang sederhana. Lirik muncul melalui refleksi atas fenomena yang dialami dan terjadi disekitar. Instrumen yang dibuat untuk mengiringi juga tidak serumit musik orchestra dengan berbagai alat musik untuk menciptakan harmoni. Untuk kasus ini saya agak tidak sependapat dengan bordeau, Karena pada tahun 1979 trio RUN DMC dalam lirik lagunya berjudul Wake Up menjelaskan tentang ajakan partisipasi demokrasi secara terbuka, tentang upah yang berkeadilan, diskriminasi ras serta aktivitas seputar aktivis soscialis sebagai berikut:

*Video Run DMC

There were no guns, no tanks, no atomic bombs / and to be frank homeboy, there were no arms… / Between all countries there were good relations / there finally was a meaning to United Nations / and everybody had an occupation / ’cause we all worked together to fight starvation… / Everyone was treated on an equal basis / No matter what color, religion or races / We weren’t afraid to show our faces / It was cool to chill in foreign places… / All cities of the world were renovated / And the people all chilled and celebrated / They were all so happy and elated / To live in the world that they created… / And every single person had a place to be / A job, a home, and the perfect pay…

Pengetahuan dalam lirik tersebut berada pada level kesadaran politik yang tinggi, dimana jika menurut bordeau hal itu hanya dapat didapat melalui proses pertarungan kelas sosial untuk mengakses keterbatasan pengetahuan dalam struktur kekuasaan yang dominan. Michael Eric Dyson sebagai tokoh intelektual kulit hitam menjelaskan “began to describe and analyze the social, economic, and political factors that led to its emergence and development: drug addiction, police brutality, teen pregnancy, and various forms of material deprivation.” Rap memasuki sebuah dimensi arena melalui modal sosial dan modal kebudayaan yang dimiliki komunitas kulit hitam. Rapper pada generasi tersebut membawa music rap dalam pertarungan sosial politik vertical untuk menunjukan emansipasinya. Kelompok kulit hitam saat itu termasuk dalam kategori low culture, jika dalam proses kapitalisme kelompok ini dijaga agar tidak memiliki akses pengetahuan yang lebih. Karena apabila pengetahuan mereka meningkat maka industry akan kehilangan pasar potensialnya.

Namun hip hop yang dianggap sebagai low culture oleh pada sebagai aktornya dapat mengakses pengetahuan lebih banyak dari yang disediakan sehingga meningkatkan kemampuan kognisinya. Hal ini sejalan dengan gagasan Lack and desire menurut Lacan, dimana meraka berhasil melawan represi kekuasan dan industry pengetahuan. Tetapi industry dan kekuasaan selalu punya cara untuk terus menancapkan dominasinya yang lebih besar terhadap struktur masyarakat. Pembelokan wacana musik dapat kita amati dalam kondisi sekitar, musik yang dianggap sebagai keindahan, bentuk ekspresi, serta sarana transfer nilai dibelokan secara signifikan untuk definisi yang lain. Musik akan tetap ada dalam sendi kehidupan kita, namun perhatian masyarakat akan dialihkan dari perkembangan intelektual musik. Musik hanya akan dijadikan sarana hiburan masyarakat yang penat akan himpitan system dan proses kapitalisme yang sedang bekerja. Mungkin contoh mudah yang dapat dilihat adalah fenomena rap pada masa okupasi MTV.

Selanjutnya, Indonesia pernah memiliki sebuah era dimana gelombang musik Rap menjamur yaitu pada pertengahan sampai akhir tahun 90an. Saat itu terdapat puluhan bahkan mungkin ratusan musisi rap menggeliat di kerumunan atau bahkan di tempat yang jauh dari hiruk pikuk pemberitaan media.Ketika membicarakan geliat musik Rap di Indonesia, kita tidak dapat melepaskan diri dari fakta kuatnya pengaruh dua hal yaitu: Iwa K dan 3 buah kompilasi musik Rap pada saat itu, Pesta Rap.

*Video Penjelasan Iwa k & Pesta Rap

Iwa adalah, bagaimanapun juga, corong yang memperkenalkan musik Rap melalui khalayak ramai melalui kemampuannya untuk menghadirkan kreativitas-kreativitasnya lewat layar kaca. Iwa nantinya menjadi pemberi jalan bagi bermacam musisi rap yang memiliki kesempatan untuk hadir di layar kaca, seperti contohnya Neo, Black Skin, Sweet Martabak, P-Squad, Blakumuh, Denada dll. Pesta Rap, bagi saya dan mungkin kebanyakan orang, memberikan persepsi yang lebih luas dibandingkan dengan pengaruh Iwa K yang patut dicermati sekaligus dikaitkan dengan beberapa kajian terhadap fenomena yang terjadi saat itu. Konten lagu yang diciptakanpun masih berkisar tentang kegelisahan, keresahan terhadap kondisi sosial, kritik terhadap gaya hidup, hingga narkotika. Mungkin Indonesia saat itu tengah terdampak flower generation yang terexport dari amerika. Jenis beat yang digunakan juga masih terdapat unsur rock hingga soul jazz yang disample.

Era itu seakan berulang, saat ini rap kembali bergeliat di tanah air, menandakan era baru kebangkitan skena hip hop. Rap berkembang sangat pesat dari segi lirik hingga beat. Kontroversi pun tidak luput menghiasi pertumbuhan rap, banyak dari media mainstream melihat potensi para rapper yang dapat menjadi sumber pemberitaan. Kasus-kasus yang terjadi juga sangat beragam, dari masalah konten lirik, peliputan gigs, video klip hingga hingar bingar artis rapper yang menuai kontroversi layaknya pabrikan industry untuk mendongkrak popularitas. Saat menulis Tulisan ini, optimisme muncul dalam benak saya bahwa hip hop khususnya rap akan menjadi sebuah domain baru dalam perkembangan musik di Indonesia.

Namun sekali lagi, budaya akan memiliki benturan yang signifikan ketika tidak dilakukan moderasi secara penuh. Indonesia memiliki tradisi yang jauh berbeda dengan Amerika, begitupun hal itu yang menyebabkan benturan terhadap tradisi dalam posisi status-quo.

Beberapa waktu lalu sempat tersiar berita tentang lirik lagu dan video yang kurang pantas mendapat banyak kritik. Dalam pandangan saya ini hanya sebuah mekanisme pertarungan budaya, kita yang selalu harus berperilaku sopan terkadang menjurus naif dalam memandang moralitas melakukan justifikasi terhadap karya tersebut. Hal ini akan berbeda jika terjadi di Amerika, bahkan dengan bahasa dan video yang mungkin lebih tidak pantas menurut budaya ketimuran yang dianut Indonesia. Tetapi kenaifan itu sangat Nampak, ketika beberapa rapper melakukan produksi lagu dalam Bahasa inggris yang tidak semua orang memahami menurut saya itupun tidak lebih sopan ketimbang yang berbahasa Indonesia. Tradisi kita erat dengan feodalisme, di mana saat itu pendahulu kita diharapakan memiliki keterdundukan dan kepatuhan kepada raja-raja yang berkuasa. Hal itu bertransformasi menjadi cara hidup yang menurut Paulo Freire disebut kesadaran masyarakat pada tingkat kesadaran naif. Pada tingkat ini sudah ada kemampuan untuk mempertanyakan dan mengenali realitas, tetapi masi terbelunggu pada tradisi masa lampau yang ditandai dengan sikap yang primitive dan naif, seperti: mengidentifikasikan diri dengan elite, kembali ke masa lampau, mau menerima penjelasan yang sudah jadi, sikap emosi kuat, banyak berpolemik dan berdebat tetapi bukan dialog.

Hip hop sebagai budaya baru yang mulai mengenalkan dan diperkenalkan ke Indonesia bagi kebanyakan orang masih sangat kasar dan mentah. Beberapa praktik akulturasi sudah banyak dilakukan, missal merapalkan verse dalam Bahasa daerah atau dicampur dengan instrument tradisional yang bersumber dari lingkungan mereka. Hal ini jauh lebih bisa diterima masyarakat meski terkadang lirik yang terkandung memiliki muatan Bahasa yang kasar. Tapi itulah, tanpa ekspresi kemarahan rap akan terasa hambar saat mengekspresikannya. Kemudian, rap diindonesia akan membagi diri mereka sesuai dengan representasi pembawa rap itu sendiri. Ada yang memiliki haluan politik sangat tegas seperti masa 70an di amerika hingga gaya MTV pasca 90an saat rap sudah terkomodifikasi oleh industri. Beruntunglah, di Indonesia rap masih dianggap belum memiliki potensi untuk menghasilkan cash flow dan keuntungan yang banyak. Hal ini menstimulus komunitas-komunitas untuk mengorganisir diri mereka untuk memproduksi hasil karyanya. Mungkin dalam beberapa tahun kedepan rap di Indonesia akan telihat sama seperti rap di amerika yang telah menjadi mainstream dengan orientasi pasar.

Sebelum itu terjadi, komunitas-komunitas melakukan jejaring yang kuat untuk menjaga independensinya. Bahkan beberapa label independent muncul dan dianggap mampu bersaing dengan label-label major industry. Ancaman terbesar terhadap rap di tanah air bukan kepada sikap maupun Bahasa yang digunakan para pelakunya. Seperti penjelasan sebelumnya, kualitas akan ditentukan dengan bentuk perlawanan terhadap struktur sosial yang dominan. Pendidikan di Indonesia masih tegolong sebagai alat represi ideologi menurut Althusser. Cara pandang ini mempengaruh masyarakat secara umum dalam memandang, melihat, memahami dan meninjau selera music yang berkembang. Kondisi ini sangat jelas terlihat dalam masyarkat kita. Penting bagi kita, mendukung gerakan komunitas independen dalam pertarungan sosial yang menurut bordeau minimal memiliki beberapa modal dari 4 modal dalam kategorinya yaitu: modal simbolik, modal budaya, modal sosial atau modal kapital. Karena pada faktanya indsutri melalui jarring kapitalisme selalu mampu mengakumulasi semua modal tersebut untuk dipertarungkan dalam arena sosial ditambah dukungan dari struktur dominan kekuasaan yang menciptakan praktik sosial hasil dari rekayasa dan skema ideologi kapitasime itu sendiri.

Jadi, suatu saat nanti kita tidak akan lagi meributkan masalah tentang bagaimana Bahasa dan tampilan visual yang tidak sesuai tradisi. Karena hip hop terbukti bertahan hingga hari ini dengan berbagai jenis adaptasinya. Suatu saat kita akan meributkan bagaimana caranya melawan struktur hegemonic yang didukung oleh industry dalam proses kapitalisme mulai melakukan enclosure yang menjadi ruang hidup komunitas yang syarat dengan transformasi nilai menjadi ruang produksi kapitalisme. Dimana para rapper harus tunduk pada tuntutan pasar dan dijadikan salah satu mesin dalam bagian factor produksi industry kapitalisme.

Tambahan:

Musik menurut keyakinan saya dapat menjadi trigger atau katalis dalam terciptanya perubahan sosial, itu sudah dibuktikan dalam beberapa kasus yang terjadi di dunia. Silahkan mempelajari melalui kanal-kanal informasi yang tersebar luas dalam internet yang menjelaskan music selalu dapat menjadi motor dalam perubaahan sosial. Selebihnya adalah kemampuan pengorganisiran pelaku seni terhadap penikmat seni itu sendiri. Music hanya akan menjadi kenikmatan tanpa pengetahuan, groupies tidak akan memiliki kesadaran tanpa adanya praktik turun kebawah akar rumput dan hanya akan melakuan hand up saat dalam gigs. Namun perlu menjadi perhatian, dari semua itu, saling menghormati dalam term hip hop selalu disebut respect merupakan factor pengikat sosial dan ketahanan terhadap culture ini. Hip hop di Indonesia tumbuh dalam atmosfer kolektif dan respect yang sangat kuat. Sekali saja anda mencederai itu, sekalipun anda berada pada langit ketuju, dalam himpitan struktur sosial yang lebih tinggi dan lebih keras anda hanya akan menjadi abu yang ditiup kesana kemari tanpa topangan dari fondasi tersebut.

 

by: @henrikushdr (Twitter)

Referensi:
Andrew Bowie. 2007. Music, Philosophy and Modernity. New York: Cambridge University Press
Louis Althusser. 2001. “Ideology and Ideological State Apparatus” dalam Lenin and philosophy and other essays. New York: Monthly Review Press.

Phillip Hill. 2002. Lacan Untuk Pemula Terjemahan A. Widyamartaya. Kanisius

Pierre Bourdieu. 1984. Distinction: A Social Critique Of The Judgement Of Taste. Harvard College

Pierre Bordieu. 2005. (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Pemikiran Pierre Bordieu. Jalasutra

Paulo Freire. 2000. Pendidikan Kaum Tertindas. LP3ES

Bourdieu and ‘Habitus’

http://www.hamptoninstitution.org/capitalismhiphoppartone.html#_ednref18

Sumber gambar Wikipedia:
Eazy E – Wikipedia – Memorial_Eazy-E_made_by_streetartist_LJvanT_@_Leeuwarden_the_Netherland

Comments

comments

ARTICLES INDONESIA

Leave a Reply

*