#BLACKBOOK2012 belum selesai : Screening BlackBook bersama SeHAMA @Kontras

Jumat 6 September 2013 kemarin, bertempat di Melly’s Garden Kebon Sirih Jakarta Pusat , diadakan pemutaran film #BlackBook dan sesi berbagi bersama teman-teman peserta #SeHAMA2013 ;

#SeHAMA 2013 sendiri adalah program tahunan yang diadakan oleh KontraS -LSM yang bergerak di bidang kemanusiaan & anti kekerasan- dalam rangka pembelajaran untuk kaum muda supaya lebih mengenal tentang human rights;

kenapa dokumenter #BlackBook -tentang pergerakan HipHop lokal- yang ditonton bersama teman-teman SeHAMA KontraS karena di negara asalnya sekitar 40 tahun yang lalu, HipHop tumbuh -juga- karena merespon isu kemanusiaan yang berawal dari kota South Bronx di sisi Timur Amerika.

Ruangan tempat film #BlackBook diputar di Melly’s Garden dipenuhi dengan foto tokoh-tokoh human rights lokal sampai dengan internasional; saat itu memang juga sedang berlangsung “Striving for Human Rights”, pameran foto human rights yang diadakan oleh KontraS.

instalasi-sehama

instalasi Striving for Human Rights

Teman-teman SeHAMA sampai di venue pukul setengah 8 malam, walaupun wajah-wajah mereka terlihat lelah namun mereka tetap antusias untuk mengikuti pemutaran #BlackBook di malam itu. Setelah istirahat sekitar setengah jam, nobar #BlackBook pun dimulai – selain teman-teman SeHAMA, beberapa pengunjung Melly’s Garden juga bergabung, ada juga yang datang khusus untuk menonton karena membaca info nobar via twitter; “Tahun lalu gue gak sempet nonton, makanya sekarang gue bela-belain dateng soalnya penasaran”, kata Agus, salah seorang yang ikut nobar.

photo 1a

Suasana nobar Blackbook

 

“Tahun lalu gue gak sempet nonton, makanya sekarang gue bela-belain dateng soalnya penasaran”, kata Agus, salah seorang yang ikut nobar.

 

Semua yang datang menyimak film #BlackBook sambil lesehan, santai tapi tetap fokus – saat ditayangkan beberapa narasumber yang sedang sharing di film, beberapa penonton ada yang saling bisik-bisik, “Eh ini kan yang lagunya itu kan …”, “Mm, kayaknya ya” – ada juga yang manggut-manggut di bagian-bagian tertentu seolah-olah sedang ngomong, “Oh, gitu toh ceritanya”.

Suasana jadi ramai dan penuh tawa kalau ada video clip ‘jadul’ yang ditayangkan, komen-komennya seputar “Ih, si anu masi kurus ya”, “Gile, dapet aja rekamannya, udah lama banget nih”.

Sayangnya sebelum pemutaran film selesai, di venue mati lampu (kayak judul lagunya Paper Clip) – nyala kembali dan nobar dilanjutkan, tapi kemudian mati lagi sampai beberapa kali. Karena khawatir player dan projector jadi rusak, juga karena teman-teman SeHAMA akan segera pulang ke penginapan untuk istirahat, maka acara langsung dilanjutkan dengan sesi berbagi – “Nanti kalau ada nobar #BlackBook lagi teman-teman akan kita kabarin”, ujar panitia – sayang, padahal film tinggal sekitar 20 menit lagi.

Narasumber sesi berbagi malam itu adalah Ferri Yuniardo dan Herman Kumala Panca, keduanya ada di ‘belakang layar’ film BlackBook – saat ditanya kenapa film #BlackBook dibuat, Ferri menjawab:

“Seperti black box di pesawat yang menyimpan info tentang penerbangan, jadi kalau pesawat dan penerbangannya ada apa-apa sebabnya bisa ketahuan, film #BlackBook ini juga seperti itu: di dalamnya ada info, keterangan, langsung dari pelakunya, yang bisa ngasi gambaran seperti inilah HipHop di Indonesia. Kalau gue sendiri kenapa gue bikin #BlackBook ya karena gue cinta HipHop”.

Ada juga peserta SeHAMA yang berbagi opini, “Kalau dilihat dari sejak Iwa K, terus Pesta Rap, sampai selanjutnya, kayak ada efek domino” – opini tersebut disepakati oleh Ferri karena setelah ada #BlackBook, di kota-kota lain seperti Bandung, Aceh juga mulai menyiapkan dokumentasi pergerakan HipHop-nya masing-masing.

Panca juga berbagi hal menarik yang ditemukannya saat menggarap film #BlackBook, “Kalau disana HipHop sering dihubung-hubungkan dengan hal-hal seperti misalnya drug dealer, disini ternyata HipHop adalah way out temen-temen HipHop untuk keluar dan menjauh dari yang negatif seperti itu”.

Sesi berbagi malam itu ditutup oleh Haris Azhar, koordinator KontraS, yang mengatakan: “HipHop itu ekspresi minoritas. Jadi kalo lo berhenti berekspresi, itu berarti lo ada di zona nyaman”.

 Haris Azhar, koordinator KontraS, “HipHop itu ekspresi minoritas. Jadi kalo lo berhenti berekspresi, itu berarti lo ada di zona nyaman”.

photo 4a

sharing session di Melly’s

Malam itu teman-teman SeHAMA dan semua yang hadir mendapat ‘hadiah’ dari Panca:

“Selesai BlackBook, gue lanjut bikin film judulnya “Tak Sempurna”, filmnya yang main teman-teman HipHop, ceritanya tentang kehidupan di Jakarta. Sekarang nonton trailer-nya dulu ya”.

Para penonton merapat kembali mendekati layar dan menonton trailer film “Tak Sempurna” – terdengar pertanyaan: “Tayangnya kapan mas?”, “Eh itu ada mas Dallas ya?”

Sayangnya, lagi-lagi, sebelum trailer selesai, lampu di venue kembali mati..

photo 3a

Foto bersama tim #BlackBook

Sebelum pemutaran #BlackBook Jumat kemarin, Ferri sempat cerita via twitter setelah semua bahan (wawancara, video clip, live footages) terkumpul, dokumenter ini aslinya berdurasi sekitar tujuh jam!!

Hmm.. kalau nobar tujuh jam kapan selesainya ya? Tapi.. apakah pergerakan ini juga sudah selesai?

‘Mati lampu’ mungkin tetap akan ada dan terulang, apakah itu tanda bergerak harus disudahi atau tetap harus bergerak walaupun keadaan ‘gelap gulita’?

 

Selamat untuk teman-teman #SeHAMA2013 KontraS dan terus bergerak 🙂

Sampai jumpa di #nontonlagi #BlackBook2012 selanjutnya 🙂

 

 

Comments

comments

ARTICLES

Leave a Reply

*