Black 'Jakarta Breaker': Breakdance Budaya Tari dari Indonesia

Lahir dari ibu seorang penyanyi, Andrea Sandinata a.k.a Black, turut mewarisi bakat seni sang ibunda. Selain bernyanyi dengan grup band-nya yang beraliran pop, cowok kelahiran Jakarta (1983) ini juga lihai dalam hal olah tubuh atau menari, khususnya breakdance. Dance bagaikan sebuah nafas dan suatu hal yang wajib dilakukannya setiap waktu. Bahkan, cowok berdarah Aceh ini turut mengenalkan breakdance ke sekelompok anak-anak usia 5 sampai 14 tahun dari berbagai latar belakang yang berbeda.

Berawal dari kesukaannya dengan sebuah film luar negeri berjudul “Breakin”, Black langsung terhipnotis untuk memelajari breakdance secara otodidak. Ia mulai berlatih sejak tahun 1992 ketika masih berumur 12 tahun. Alasan itulah yang membuatnya berpikir untuk mengajar anak-anak kecil menari. Kecintaannya pada dance tidak semata-mata karena hobi saja, ia lalu mencari tahu asal-usul dance modern yang saat itu belum banyak peminatnya.

Penasaran dengan misinya yang mulia mengajarkan breakdance untuk para bboy dan bgirl kids, aku membuat janji dengan beliau di tempatnya mengajar, Taman Ismail Marzuki, Cikini. Sore itu, Jakarta baru saja diguyur hujan sehingga kami sepakat mengobrol di sebuah café tenda di area dalam TIM. Setelah membuka percakapan dengan perkenalan diri, interview pun dimulai.

Andrea Sandinata a.k.a Black

Apa kabar Mas Black?

Ya, kabar saya baik-baik.

Bisa diceritakan waktu pertama kali mengenal bboy?

Oke. Saya pertama kali mengenal dance atau tari-tarian itu pada tahun 1992 ketika usia 12 tahun. Awalnya, dulu saya pernah menonton film old school bertema Hip Hop yang lengkap dengan gerakan breakdance. Judul filmnya “Breakin” dan pemainnya legend-legend Hip Hop artis. Nah, dari situlah saya terinspirasi karena saya melihat ada energi yang besar dari tarian itu. Sampai akhirnya saya memelajari secara “street” dan otodidak. Setelah sempat tidak adanya pergerakan dance sama sekali di tahun 80’an, barulah tahun 90’an saya dengan tim saya mengekspresikan gaya-gaya dance kami di jalanan. Area yang kami datangi di daerah Menteng, Sarinah, dan bahkan Senayan.

Lalu, bagaimana ceritanya bisa sampai mengajar bboy kids seperti sekarang ini?

Untuk idenya sendiri sudah lama, dan sebenarnya saya bukan sudah nggak mau menari lagi, tapi memang saya sudah nggak mau tampil lagi di publik. Karena itu, saya ingin mengembangkan scene Hip Hop di Indonesia dengan mempersiapkan regenerasinya.

Hip Hop itu adalah kultur yang berkaitan dengan kultur kita di Indonesia yang memiliki bermacam-macam tarian. Ternyata, setelah saya melakukan observasi, akar-akar Hip Hop itu banyak yang terinspirasi dengan salah satu tradisi di sini (Indonesia), seperti tarian Bedoyo, tarian Saman, tarian-tarian perang di Papua, dan tarian Sigalegale dari Sumatera Utara.

Tari-tarian Indonesia justru lebih dulu lahir di tahun 1960-an, sedangkan Hip Hop baru muncul di tahun 1980-an. Jadi, saya berpikir bahwa tarian kita memang lebih dulu lahir dibanding Hip Hop. Oleh karena itu, saya mengajarkan kepada anak-anak mengenai sejarah tari-tarian tradisional kita dengan gerakan-gerakannnya yang hampir mirip dengan tarian Hip Hop agar mereka tidak lupa dengan budaya tanah air. Bahkan, saya pikir Indonesia adalah embrio-nya dunia karena memiliki akar budaya yang sangat berpengaruh bagi tarian dunia. Akhirnya, saya mulai mengajar dari tahun 2004 sampai sekarang.

Selain sibuk mengajar, ada kegiatan lain?

Kegiatan lain saya menyanyi dan nge-rap juga dengan grup band saya, tapi sekarang lagi vakum.

Kembali ke soal mengajar, mungkin bisa diceritakan secara singkat mengenai bboy kids yang diajari?

Jadi, timnya bernama Zoo Kids. Zoo sendiri diambil dari sejarah Taman Ismail Marzuki, tempat kami biasa latihan, yang dulunya adalah kebun binatang. Jumlah anak-anak yang rutin berlatih sekitar 25 orang dan terdiri dari bboy plus bgirl. Usianya dari yang paling muda umur 5 tahun, dan yang paling besar umur 14 tahun. Kami biasa latihan di halaman depan XXI TIM setiap hari Senin dan Jumat pukul 17.00-22.00 WIB.

Faras: Bgirl berusia lima tahun

Akbar

Apa tujuan dari mengajar bboy dan bgirl ini?

Tujuan utamanya yang pasti bukan hanya sekadar mencari materi, tetapi saya ingin mengembangkan dunia Hip Hop ini khusus untuk anak-anak kecil yang punya bakat/talent di dunia tari.

Lanjut ke teknik tari, dengan usia yang berbeda-beda, apa mungkin anak-anak kecil mendapat materi yang sama dengan teknik yang diajarkan?

Oh, pastinya disesuaikan dengan usia mereka dan kemampuan memegang teknik basic tarian. Biasanya dimulai dari pengenalan teknik dasar tari Hip Hop.

Sebagai pelatih tari, kesulitan apa yang dihadapi saat mengajari anak-anak?

Kesulitannya yang jelas harus sabar menghadapi anak-anak karena jiwa mereka yang masih senang bermain dan bercanda juga nggak bisa dipaksakan untuk menerima materi. Namun, tetap saya menerapkan disiplin kepada mereka dan suasana kekeluargaan ketika latihan. Ada waktunya berlatih serius, dan ada waktu untuk bercanda.

Menurut Mas Black, bboy itu seperti apa?

Bboy itu menurut saya bukan hanya sebatas tari-tarian saja, tetapi juga lebih ke ekspresi dan kebudayaan. Baik budaya lokal maupun budaya luar, keduanya saling berhubungan dan bukan semata-mata menjiplak budaya, tetapi seperti penggabungan budaya.

Apa ada elemen-elemen dasar yang harus dikuasai untuk nge-dance?

Saya pikir dance itu bebas dan nggak memerlukan elemen-elemen apapun. Semua orang bisa ikut untuk belajar karena dance bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipelajari, tapi tergantung kemauan dari individu masing-masing.

Setelah membimbing para bboy dan bgirl kids ini, apa rencana Mas Black untuk 6 bulan ke depan?

Saya berharap bisa mengirim mereka ke luar, tepatnya ke Singapura, untuk mengikuti kompetisi dance khusus teenager yang memang rutin digelar sejak tiga tahun lalu. Karena di Indonesia belum ada wadahnya dan belum ada sponsor yang mau mengadakan kompetisi seperti itu maka kami coba lari ke Singapura. Di Singapura nanti baru terhitung babak penyisihannya, dan pemenangnya akan terbang ke Perancis. Saya yakin mereka pasti bisa dan mampu berangkat dengan berbekal kemampuan. Sekarang tinggal memperkuat kedisiplinannya saja.

Sebagai penutup obrolan, ada pesan yang mau disampaikan untuk bboy se-Indonesia?

Tetap kembangkan tarian Hip Hop dengan budaya yang sudah kita punya. Jangan menjiplak karya siapapun karena originalitas itu paling penting di dunia tari.

Pastinya aku doakan supaya semua harapan Mas Black dan Zoo Kids bisa tercapai. Tentunya, Indonesia pasti bangga karena memiliki kekayaan budaya dan generasi-generasi penerus bangsa yang berbakat.

Good luck! 🙂

Black dan Zoo Kids

Aksi bgirl saat latihan

foto: Allin

 

Comments

comments

BBOY INDONESIA

Leave a Reply

*